Naluri Agama
AGAMA diturunkan Allah kepada manusia tentu saja untuk kebajikan yang luas dan menyejukkan.
Dosen STAIN SAS Babel
AGAMA diturunkan Allah kepada manusia tentu saja untuk kebajikan yang luas dan menyejukkan. Tanpa agama, kelangsungan hidup manusia tidak akan (pernah) menemukan keteduhan. Tanpa agama, setiap diri yang bernama manusia akan kesulitan memahami siklus eksistensialitasnya.
Sedemikian pentingnya sebuah agama bagi manusia, Raja Ali Haji, penyair (sufistik) yang masyhur dari Melayu sempat mengurai indah dalam sajaknya, “barang siapa tiada memegang agama/sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.” Dalam bahasa lain, siapa saja dari manusia yang tidak beragama, tak pantas rasanya menjadi seorang hamba di muka bumi.
Will Durant, seorang ahli agama dari Barat, berbisik lebih lugas. Agama, kata Durant, memiliki potensi seratus jiwa. Ia menggugah dan menakjubkan. Dan sesuatu, lanjut Durant, jika telah dibunuh pada kali pertama, ia pun sudah mati untuk selama-lamanya. Sedangkan agama, sekiranya seratus kali dibunuh, ia akan muncul, bangkit lagi, dan kembali hidup setelah itu.”
Dasar harapan
Diakui atau tidak, pada dimensi yang sangat luhur, agama sebetulnya merupakan dasar sebuah harapan (hope) bagi setiap manusia di muka bumi. Dari dan dengan agama, manusia akan mengalami kematangan mengarungi kehidupan berbasis kebajikan. Dan bersama agama pula manusia akan terus menemukan ruang kreasi sosialnya yang mendamaikan.
Sekiranya agama dijadikan salah satu alasan untuk melahirkan tingkah hidup yang berada di luar kebajikan, seperti gerakan teroris(me) yang marak akhir-akhir ini, maka menyudutkan agama amatlah keliru. Ini tidak etis dan mengabaikan naluri agama yang berkomitmen tinggi atas nilai-nilai ilahiah sekaligus loyal terhadap realitas insaniyah.
Allah Swt. dengan gamblang menyatakan bahwa setiap manusia yang beriman (baca : beragama), ia harus mengibarkan perilaku kebajikan di setiap ruang dan waktu. “Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapatkan kemenangan” (QS. Al Hajj : 77).
Kemenangan identik dengan kebajikan. Sebaliknya, kekalahan sering kali muncul dari perbuatan buruk. Dan seandainya manusia beragama hendak menjadi pemenang, ia tidak bisa memaksakan perilaku yang kurang elok di mata publik. Allah sendiri telah menyatakan bahwa kebajikan pasti mengalahkan keburukan (innal hasanata yudzhibna al sayyiat).
Cita-cita ingin mengalahkan kaum kafir atau mereka yang berada di luar jalur Islam, seperti yang didengungkan sebagian kelompok teroris belakangan ini, satu sisi tampak luhur, terlebih kalau dikemas dengan istilah “jihad.” Akan tetapi, manakala cara kerja yang ditempuh juga tidak dalam koridor Islam yang berbasis rahmatan lil `alamin, tentu mudah menuai kekalahan. Itu fakta.
Islam rahmatan lil ‘alamin sejatinya merupakan penyatuan dari tiga unsur sangat vital dalam agama; iman, Islam, dan ihsan. Tiga unsur ini tidak bisa dipisahkan antara satu dari yang lain. Dan kalau ada yang memisahkannya, berarti ia telah ikut melahirkan kepincangan dalam beragama. Sebab unsur-unsur dimaksud bersifat hirarkis.
Manusia tidak cukup hanya dengan beriman dan berislam. Ini baru tahapan awal persentuhan dengan Tuhan dan agama. Berikutnya, manusia harus menegakkan kebajikan (ihsan), yang menjadi pondasi, modal dan model dalam transformasi spiritualitas agama secara praktis. Itulah yang diteladankan Nabi Muhammad Saw. sedari awal peradaban Islam.
Meniru istilah Musa Asy’ari (1995), tanpa spiritualitas, agama tidak akan berkembang dengan sempurna. Dengan spiritualitas, manusia beragama akan mudah memahami dan memaknai dimensi-dimensi ilahiah. Bahkan melalui konstruksi spiritualitas keagamaan yang baik, setiap umat beragama semakin rendah hati, mempunyai kepekaan dan kepedulian tinggi terhadap kesalihan sosial.
Seruan Islam
Sebagai agama yang dibawa Nabi Muhammad Saw., seruan Islam adalah (ke)damai(an) dan (ke)rukun(an). Sebab agama itu nasihat, kata Rasulullah. Dan Allah, tegas Rasulullah, tidak mengutusku kecuali untuk rahmat belas-kasih bagi semesta alam (QS. Al Anbiya : 107).
Apa yang diperlihatkan Nabi Muhammad Saw., sejatinya telah dicanangkan dalam Alquran, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (QS. Al Hujurat : 13).
Untuk saling mengenal dengan baik, manusia membutuhkan kearifan. Dari kearifan manusia akan menemukan kedamaian. Bahkan menurut Sang Buddha, agar manusia bisa damai dan rukun dengan sesama, ia harus memulai dulu damai dan rukun dengan pribadinya. Dalam istilah Islam, mungkin inilah yang dimaksud dengan ibda’ binafsika.
Moh. Iqbal mengatakan bahwa ujian yang paling nyata pada suatu pribadi adalah, apakah ia sanggup memberi tanggapan kepada panggilan pribadi yang lain atau tidak. Sedangkan penghargaan terhadap pribadi manusia, meminjam istilah Paus Yohanes Paulus II, merupakan awal dari terciptanya persaudaraan sejati dalam kemanusiaan. Sebab universalitas, kerahiman, pengampunan, keadilan, belas kasih berbasis nilai-nilai luhur religiusitas, senantiasa menuntut kematangan pikir kedewasaan pribadi.
Paus pun sempat mensinyalir kalau ancaman yang gawat terhadap perdamaian sesungguhnya senantiasa datang dari sikap yang tidak toleran. Yakni, menyatakan diri dalam sikap menolak kebebasan nurani pada orang lain. Intoleransi, terutama dalam perspektif ayat di atas, tentu kurang tepat dijadikan rujukan eksistensial dalam sosio-agama dan kemanusiaan.
Intoleransi bukan saja akan menghambat perdamaian dan kerukunan antara sesama manusia. Jauh di balik itu, intoleransi sebetulnya mencederai fitrah kekhalifahan kita di muka bumi. Intoleransi itu parsialistik. Intoleransi itu diskriminatif dan destruktif. Intoleransi sebetulnya mengabaikan paradigma bahwa semua makhluk, termasuk manusia, hanya merupakan alternatif dari kebenaran Allah.
Agar nurani agama mampu mendamaikan umat manusia, ia tidak harus ditampilkan sebagai perangkat doktrinatif-normatif dari Tuhan semata. Lebih dari itu, ia mesti dicitrakan sebagai tatanan religiusitas yang puitik. Sebab dengan kontruksi religiusitas yang puitik, agama akan sangat artikulatif.
Dengan konstruksi religiusitas yang puitik, agama tidak semata-mata akan mengurai Tuhan yang Agung dan Perkasa yang dikuatkan melalui norma-norma formalistik. Lebih maju dari itu, masih kata Moh. Iqbal, agama akan mencitrakan Tuhan sebagai Keindahan Abadi. Yakni, sumber, essensi, dan potret ideal dari segala sesuatu yang mendamaikan dan menggetarkan. (*)