Terowongan Bandara Diduga Tempat Persembunyian Senjata
Pengamat Budaya dan Sejarah Bangka, Akhmad Elvian menilai terowongan atau
Laporan Wartawan Bangka Pos Gilang Puspita
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pengamat Budaya dan Sejarah Bangka, Akhmad Elvian menilai terowongan atau bunker yang di temukan di sekitar Bandara Depati Amir sebagai tempat penyimpanan dan persembunyian senjata.
Apalagi ketika zaman penjajahan, Bandara Depati Amir dibangun pada masa penjajahan Belanda dan juga pada masa pendudukan Jepang.
"Melihat lokasi temuan yang berada di dekat bandara sangat memungkinkan bunker itu digunakan sebagai tempat persembunyian dan penyimpanan senjata. Apalagi bandara itu dibangun pada masa Belanda dan juga digunakan saat masa Jepang," kata Elvian kepada bangkapos.com, Kamis (11/7/2013).
Elvian mengatakan, dulunya Bandara Depati Amir dinamakan warga Lapangan Udara Kampung Dul.
Lapangan udara itu juga dulunya dijadikan sebagai salah satu pusat kekuatan angkatan udara Jepang. Karena pada 17 Februari 1942, Bangka diduduki Jepang dan lebih dari 70 pesawat sekutu ditenggelamkan Jepang di Selat Bangka.
"Serangan pesawat Jepang salah satunya berpangkalan di Kampung Dul dan serangan Jepang juga dilakukan dari Singapura," ujar Elvian.
Bandara itu juga digunakan sebagai transit pengasingan Bung Karno, H. Agus Salim dan Sutan Sahrir dari Maguwo, Yogyakarta ke Medan, hingga diteruskan ke Brastagi dan Parapat saat agresi militer Belanda II tanggal 22 Desember 1948.