Selasa, 7 April 2026

Sehari, Juru Parkir Penyandang Bisu Tuli Ini Dapat Rp 60 Ribu

Belakangan ini banyak Pemda di Indonesia berusaha meningkatkan kesejahteraan para penyandang cacat (disabilitas) dengan mempekerjakan mereka.

BANGKAPOS.COM, SEMARANG - Belakangan ini banyak Pemda di Indonesia berusaha meningkatkan kesejahteraan para penyandang cacat (disabilitas) dengan mempekerjakan mereka. Tak terkecuali di Surakarta, Jawa Tengah, yang telah lama memberikan kesempatan kerja demi peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat, misalnya menjadi juru parkir.

Sebut saja Koco, pria usia 35 tahun ini sudah bekerja menjadi juru parkir sejak 1995 di pinggir Jalan Martadinata, Pasar Gedhe Surakarta. Koco seorang tuna rungu (tuli) dan tuna wicara (bisu). Dia bekerja menjadi juru parkir bersama 10 orang di Jalan Martadinata tersebut, dimana 8 orang diantaranya adalah tuna rungu dan tuna wicara.

"Iya di sepanjang jalan ini (Martadinata) semua juru parkir bisu tuli. Tapi mereka terampil mengatur dan menempatkan kendaraan roda dua dan roda empat di tempat parkir. Mereka pakai peluit. Kami nggak ada masalah," kata seorang sopir mobil box yang sudah langganan parkir di lokasi tersebut.

Koco seorang juru parkir mampu menulis dengan jelas. Dia menceritakan kepada Tribunnews.com menggunakan bahasa isyarat. Kemudian menuliskan di kertas. Menurut penjelasannya di kertas, ada 8 orang bisu tuli yang jadi juru parkir tetap di sepanjang jalan Martadinata. Yaitu tepatnya di sebelah timur simpang empat Pasar Gedhe Surakarta.

Alex juga menceritakan menggunakan pakai bahasa isyarat bahwa dia adalah teman kerja Koco. Dia mengaku sudah jadi juru parkir sejak lama. Sejak bujangan hingga kini sudah punya satu anak. Area pengaturan parkir mereka sepanjang kira-kira 800 meter.

"Kami dalam sehari dapat sekitar Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu. Setor ke kantor (Pemda) Rp 15 ribu tiap hari. Di sini (Jalan Martadinata) juru parkir dibagi untuk mengatur roda dua dan roda empat sendiri-sendiri," kata Alex kepada Tribunnews.com dalam tulisan kertas, Senin (7/10/2013).

Para juru parkir itu disukai oleh pemilik kendaraan. Karena sering membantu angkat barang dari dan ke kendaraan yang parkir di area pengaturannya. Selain itu juga mereka terampil menyeberangkan jalan jika ada orangtua atau anak-anak yang hendak melintas di pasar yang ramai tersebut.

Diantara 8 orang penyandang cacat bisu tuli itu terdapat seorang wanita yang juga mengenakan baju seragam parkir. Namun menurut seorang tukang becak yang biasa mangkal di lokasi itu, wanita tersebut bukan juru parkir tetap melainkan hanya menggantikan suaminya yang lagi off. Kebetulan suami istri tersebut semua bisu tuli.

Para sopir atau pengendara sepeda motor yang sering parkir di lokasi itu sudah hafal dan memahami bahwa para juru parkir adalah penyandang cacat bisu tuli sehingga tak perlu berkomunikasi lagi. Cukup dengan isyarat dan kemudian memberikan sejumlah rupiah sebelum meninggalkan lokasi parkir. Demikian juga para pemilik toko di lokasi itu sudah akrab dengan para juru parkir tersebut.

Sumber: Tribunnews
Tags
parkir
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved