Jumat, 10 April 2026

Mesin Kipas Angin Gantikan Tradisi Kipas Sate

Tradisi kipas sate yang menjadi ciri khas dari proses pembakaran potongan daging, yang ditusuk perlahan menghilang.

Penulis: Evan Saputra |

Laporan Wartawan Pos Belitung, Evan Saputra

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Kemajuan zaman membuat kehidupan manusia mulai tergantung pada mesin, mulai dari hanphone, kenderaan bermotor, komputer bahkan hingga kipas angin.

Seperti hal yang terjadi pada penjual sate di Jalan Jendral Sudirman, Tanjungpandan, Belitung, Selasa (3/12/2013). Tradisi kipas sate yang menjadi ciri khas dari proses pembakaran potongan daging, yang ditusuk dan dimasukan kebatangan yang dibuat lancip diujungnya ini perlahan menghilang. Kini para penjual sate mulai menggunkan mesin kipas angin untuk proses pembakaran.

Batangan daging yang akan dibakar di atas bara api tersebut biasa terbuat dari kayu dan bambu, setelah matang dicampur dengan bumbu kacang, dan dapat disantap.

Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diketahui, selain tradisi yang hilang dari proses pembakaran, rasa dan kematangan sate pun ikut berkurang. Ternyata, rasa sate menggunakan kipas biasa lebih enak

Andi, salah satu penjual sate di Jalan Jenderal Sudirman, Tanjungpandan, Belitung, mengungkapkan, rasa sate yang diproses melalui pengipasan tidak menggunakan mesin, rasa dan kematangan daging terasa sangat baik.

"Bedanya ada pada rasa dan kematangan daging, kalau pakai kipas biasa kematangan daging lebih baik, dan rasanya legit, kalau pakai mesin kipas angin paling tidak kita sesuasikan kecepatan kipas anginnya dan pengapiannya, tapi rasanya agak sedikit beda," ujar dia

Andi memilih menggunakan kipas angin karena proses yang tidak lama karena pesanan yang banyak, dan tidak memakan tenaga.

"Hampir semua pedagang disini (Tanjung Pandan, Beliutng) menggunakan kipas angin untuk proses pembakaran, seperti lamongan dan sate. Kita menggunakan kipas angin karena selain prosesnya cepat, kita juga mengejar pesanan, selain itu juga tidak memakai tenaga," kata pria kelahiran Madura ini, ketika bangkapos.com mengunjungi warung sate miliknya.

Warung milik Andi hanya tutup pada malam Jumat, dia menjelaskan kenapa sebabnya, pria berkulit agak gelap ini hanya menyebutkan bahwa itu hanya sebuah tradisi.

Pembeli dapat membawa pulang sate di warung Andi dengan harga Rp 1.200 per tusuknya, rasa dan kematangan dapat dimintakan langsung oleh pembeli, apakah ingin benar-benar matang atau dengan kuah kacang yang pedas.

Warung Andi buka pada pukal 18.30 WIB hingga tengah malam sekitar pukul 12.00 WIB. Pembeli dapat merasakan langsung kenikmatan sate madura ini.

Sumber: bangkapos.com
Tags
sate
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved