Breaking News:

Buku Korpus Mapur dalam Islamisasi Bangka

ALHAMDULILLAH, telah terbit sebuah buku mengenai sejarah islamisasi di Pulau Bangka yang sudah digarap delapan tahun yang lalu dengan

Oleh: Ali Usman
Alumnus Sejarah UGM

ALHAMDULILLAH, telah terbit sebuah buku mengenai sejarah islamisasi di Pulau Bangka yang sudah digarap delapan tahun yang lalu dengan judul KORPUS MAPUR DALAM ISLAMISASI BANGKA. Buku ini mengupas jejak Islam awal ke Pulau Bangka beserta para tokohnya dan juga bukti arkeologis berupa makam- makam kuno Islam beserta kajian inskripsi-epigrafinya. Tidak hanya membahas seputar islamisasi, buku ini juga mengupas mengenai kehidupan Orang Lum dan peradaban Mapur serta hubungannya dengan Islamisasi itu sendiri. Buku ini ditulis oleh Tengku Sayyid Deqy, putra Belinyu-Bangka.

Buku ini merupakan hasil penelitian kurang lebih delapan tahun yang lalu di sebagian besar wilayah Bangka,  kemudian merambah ke Palembang, Cirebon, Banten, Yogyakarta, Aceh, Sumatera Utara, Pekanbaru, Tanjungpinang, Pulau Penyengat, dan kajian literatur spesifik dari Malaysia, Fatani, dan Hadhramaut-Yaman. Saudara Teungku Sayyid Deqy memulai penelitian ini awal tahun 2006 yang lalu, melakukan kegiatan riset sendiri di banyak wilayah Bangka, mengumpulkan data dengan berbagai macam metodologi, menggali situs-situs sejarah dan arkeologi, menginventarisir, dan juga melakukan studi ekskavasi di beberapa titik artefakologis.

Buku ini ditulis berdasarkan penelitian yang memiliki dinamika tersendiri, diantaranya, membutuhkan waktu yang cukup lama, detail, melelahkan, konsisten, berulang-ulang, dana yang sangat mahal dan didanai sembilan puluh persen oleh pribadi penulis dan sedikitnya bantuan dari CSR PT.Timah Tbk. Penulis sendiri memiliki latar belakang yang berbeda dengan pekerjaan  risetnya, yaitu lulusan Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen Keuangan Universitas Ahmad Dahlan-Yogayakarta.

Dengan latar belakang ini penulis harus banyak belajar dan berkonsultasi dengan para pakar, di antaranya Balai Arkeologi Palembang, Prof.Dr.Bambang Purwanto, Prof.Dr.Jalaluddin, dan masih banyak lagi. Kurang lebih lima tahun proses buku ini digarap sendirian sampai akhirnya pada tahun 2011, Teungku Sayyid Deqy mengajak Ali Usman dari jurusan Sejarah-UGM untuk bergabung dalam kerja penelitiannya. Ali Usman beberapa kali ikut ke lokasi penelitian dan membantu kerja riset sesuai dengan keahliannya dibidang sejarah.

Teungku Sayyid Deqy mengalami banyak sekali kendala di lapangan pada beberapa tahun pertama, terutama ketika harus bepergian sendirian menembus hutan lebat, memetakan situs-situs makam kuno yang tertimbun tanah, menginap berhari-hari di hutan untuk observasi, menyusuri sungai-sungai, mengumpulkan informasi lisan, meng cross-check kebenaran cerita, bahkan harus menginap di hutan lebat karena tersesat, berhadapan dengan dukun-dukun yang kurang ramah dan pernah dicekik secara fisik, jatuh dari tebing Gunung Maras setinggi 23 meter dan hampir sebulan tidak bisa berjalan dengan normal, kemudian mobil yang dikendarainya masuk ke kolong dan hampir tenggelam, ditambah lagi perahu yang ditumpanginya menabrak pohon bakau dan akhirnya terbalik dan dikejar buaya di sungai Bangkakota.

Masih banyak lagi pengalaman lainnya yang menjadi kenangan indah dan menjadi bagian penting dari lahirnya buku ini. Teungku Sayyid Deqy berharap bagi generasi sekarang untuk menjaga aset dan materi kebudayaan, baik berbentuk kebendaan, tulisan, dan juga tutur lisan, dan ingin sekali mengajak masyarakat untuk menumbuhkan budaya riset terhadap suatu wacana yang akan diteliti. Satu bagian cukup penting dari buku ini adalah, merekonstruksi tokoh legendaris Pulau Bangka yang dianggap sakti dan luar biasa, yaitu ketokohan Akek  Antak.

Dalam salah satu bab buku ini, Akek Antak dikupas secara ilmiah dengan beberapa metodologi dan juga dengan menggunakan pendekatan filologi-sosiologi-antropologi-epigrafi-arkeologi-genealogi.

Hipotesa dalam buku ini merupakan salah satu pencapaian mutakhir dari upaya untuk membangun ketokohan Akek Antak yang ternyata seorang wali Islam Pulau Bangka yang paling lampau, yaitu hidup di sekitar abad ke 10 M. Akek Antak merupakan tokoh wali yang paling fenomenal namun dianggap sebagai tokoh mitologi yang berhasil merebut semua komposisi lisan masyarakat Bangka. Pada akhir Tahun 2013, Teungku Sayyid Deqy berkenalan dengan Arif Sudana yang berpengalaman dibidang  penelitian.

Pada saat naskah buku selesai dan sebulan lagi akan naik cetak di penerbit Ombak Yogyakarta, Teungku Sayyid Deqy tak menyia-nyiakan waktu yang sempit ini untuk berkonsultasi dengan Arif Sudana sebagai pembaca ahli. Alhasil, naskah yang tebalnya hampir 600 halaman ini dikoreksi secara mendetail, dari aspek redaksi, kalimat, bahasa, dan juga hipotesa. Arif Sudana banyak sekali memberikan masukan untuk perbaikan dan sama sekali tidak merubah substansi dari buku tersebut, justru memperkuat personal branding atau ciri khas pemikiran penulisnya. Selain Ali Usman dan Arif Sudana, turut juga memberikan masukan saudara Riharnadi yang berpengalaman dibidang teknis.

Buku KORPUS MAPUR DALAM ISLAMISASI BANGKA karya Teungku Sayyid Deqy ini, akan diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Belanda, dan Jerman, dan akan dipamerkan di Jerman pada Frankurt Book Fair 2015 di Jerman.

Dalam membangun kerja riset selama delapan tahun ini, Teungku Sayyid Deqy didukung penuh  oleh ayahandanya alm.Teungku Sayyid Tharmyn yang sudah berpulang ke Rahmatullah Agustus tahun 2013 lalu.

Penelitian ini pun cukup banyak dibantu sang ayah, baik bersifat dokumen, naskah-naskah lama, dan  tutur lisan, dan penelitian ini juga sebagiannya didanai langsung oleh sang ayah. Saudara Teungku Sayyid Deqy lahir di Belinyu 32 tahun yang lalu dan ia berasal dari keluarga multikultural. Ayahandanya berdarah campuran Hadhramaut-Yaman, Turki, Aceh, dan Bangka, sedangkan ibundanya berdarah campuran Hadhramaut-Yaman, Mongolia, Betawi, dan Bangka. Meskipun banyak memiliki darah campuran, Tengku Sayyid Deqy yang berasal dari keturunan dari Kesultanan Islam Perlaq-Aceh ini merasa tetap sebagai orang Bangka asli atau orang Belinyu asli, karena ia dan keluarganya lahir di Bangka, tumbuh, besar, hidup, sekolah, bekerja, dan menetap di Bangka, juga mencintai Pulau Bangka.

Untuk itu, buku ini kontennya menulis tentang sejarah islamisasi di Bangka dan dipersembahkan untuk  masyarakat dan Pulau Bangka. Satu-satunya hal yang membuat sedih adalah ketika buku ini lahir dan sampai di tangan pembaca, sang ayah tidak sempat melihat dan menyaksikannya. Namun semangatnya terus mengalir dalam diri Teungku Sayyid Deqy untuk terus meneliti, dan sekarang ini sedang menulis buku kedua dengan judul PHILOLOGY INTUITIVE AND THE ISLAMIC TOMB INSCRIPTIONS OF BANGKA yang insyaallah November 2014 ini selesai dan akan naik cetak di penerbit Ombak Press Yogyakarta.

Buku KORPUS MAPUR DALAM ISLAMISASI BANGKA dapat dibeli di Gramedia Online dan juga toko buku- toko buku Gramedia Indonesia, juga dapat menghubungi penulis langsung. Buku ini lahir atas kerja keras, optimisme yang tinggi, konsisten, dan juga atas bantuan dari banyak pihak, baik narasumber lokal, para pakar, dan juga teman-teman seperti Ali Usman, Arif Sudana, Riharnadi, dan para pemodal pada kegiatan penerbitan (Ustadz Abdurrahman, Imam Wahyudin, Dwi Santoso, Hoirul Rizal, Ahmad Radial dan PT.Timah Tbk dan Yayasan Bakti Timah). Pada bulan Maret 2014, Teungku Sayyid Deqy bersama enam rekannya (Ali Usman, Riharnadi, Arif Sudana, Edriyansyah, Ferhad Irvan, Yuyun Roesli) membentuk sebuah lembaga penelitian dengan nama KARANG LINTANG SOCIAL & RESEARCH yang berkedudukan di Pangkalpinang. Lembaga penelitian ini menjadi wadah untuk melakukan penelitian atau riset seputar Bangka dan lembaga ini juga menyentuh bidang sosial. Hasil dari riset ini kemudian akan diterbitkan ke berbagai macam bentuk artikel, jurnal, working paper, dan buku-buku.

Sumber: bangkapos.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved