Breaking News:

Usai Sembahyang Imlek Ada Tradisi Ramal Nasib

Saat Imlek, umat Tri Dharma tidak hanya bersembahyang di klenteng. Seusai sembahyang, sebagian besar mereka tidak langsung pulang

BANGKA POS / Vicqie WSW
Ilustrasi: Warga Dusun Tayu sedang memohon keberkahan di Kelenteng Fut Tet Kiung. 

BANGKAPOS.COM, SURABAYA - Saat Imlek, umat Tri Dharma tidak hanya bersembahyang di klenteng. Seusai sembahyang, sebagian besar mereka tidak langsung pulang, mereka mengantre bertemu juru kunci klenteng untuk diramal nasibnya.

Meramal nasib sebenarnya tidak hanya saat Imlek, setiap hari, kata Juru Kunci Klenteng Sukaloka, Jalan Coklat Surabaya, Ong King Ngik, selalu ada yang ingin diramal nasibnya.

Namun, saat Imlek, umat yang ingin diramal jumlahnya semakin banyak. "Sebagian besar yang ingin diramal soal jodoh dan usahanya," kata Ong, Kamis (19/2/2015). Ramalan meminta petunjuk pada dewi penguasa lautan, yakni Dewi Samudra.

"Namun tidak serta merta Dewi Samudra memberikan petunjuk. Tergantung kekhusyukan yang diramal ketika menjalani proses ritual," ujarnya.

Proses ritual ramal membutuhkan setidaknya waktu sekitar lima menit. Tetapi jika salah ritual, harus diulangi berulang kali sampai benar. [Baca: Kisah Pemeluk Hindu Penjaga Klenteng Tertua di Lombok]

Pertama, mereka yang meminta diramal, harus memberikan penghormatan dengan menggangkat dupa tiga kali di hadapan patung Dewi Samudra sambil menyebutkan nama dan alamat.

Setelah itu menjatuhkan satu lidi dari puluhan lidi yang berada di dalam tungkuk dengan cara mengopyok. Setelah lidi yang sudah diberi nomor itu jatuh, maka dilanjutkan dengan ritual membuang dua buah kayu yang berbentuk pisang.

"Jika jatuhnya kayu itu sama-sama menghadap ke atas, berarti Dewi Samdura sedang tertawa, yang berarti yang diramal tidak begitu percaya dengan hasilnya. Sehingga harus melakukan ritual ulang," kata Ong.

Tetapi jika kedua kayu tersebut jatuhnya sama-sama telungkup, pertanda Dewi Samudra sedang marah. Itu menandakan yang diramal, dalam hatinya menyepelekan ritual tersebut. Sehingga juga harus mengulang lagi.

Tetapi jika kedua kayu tersebut jatuhnya, satu telungkup dan satu menghadap ke atas, berarti ritual telah sempurna. Dan kemudian si peramal menjelaskan arti jatuhnya kayu yang sudah diberi nomor urut tersebut.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved