Windo Tak Bisa Tidur Terlentang

Seorang anak laki-laki duduk dalam kondisi kepayahan di atas ranjang ruang Asoka RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, Jum

Windo Tak Bisa Tidur Terlentang
bangkapos.com/alza
Windo saat menjalani perawatan di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, Jumat (20/3/2015).

Seorang anak laki-laki duduk dalam kondisi kepayahan di atas ranjang ruang Asoka RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang, Jumat (20/3) pekan lalu. Hingga, Minggu (22/3) kemarin bocah tersebut masih menjalani perawatan tim medis. Tatapan matanya nanar, menandakan derita yang mendera hidupnya. Usianya sudah menginjak 12 tahun. Tapi malang, anak yang seharusnya duduk di kelas VI sekolah dasar itu hanya memiliki berat tubuh 23 kg.

Windo nama anak dari Pulau Lepar itu, didiagnosa awal oleh tim medis RSUD Bangka Selatan menderita busung lapar. Sesuai dengan kondisi perutnya yang membusung dan tubuh lain mengurus.

Setiap hari dia harus merasakan sesak nafas dan tidak dapat menikmati tidur telentang. Windo yang putus sekolah sejak kelas 2 SD, terpaksa tidur dalam posisi duduk bersandar bantal.

"Baru kami bawa ke rumah sakit di Toboali, kata dokter busung lapar, lalu disuruh ke rumah sakit pangkal (RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang). Anak kami mengamuk kalau mau dibawa berobat ke rumah sakit, katanya lebih baik mati saja. Jadi sekarang kami paksa bawa karena kondisinya buruk," ungkap Dumpui (35), ayah Windo.

Sebenarnya, sudah lama Windo mengalami gejala busung lapar. Apa daya, hidup di pelosok pulau terpencil dan keterbatasan ekonomi membuat mereka hanya bisa pasrah.

Warga Desa Tanjunglabu, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan itu mengandalkan kartu Jaminan Kesehatan Junjung Besaoh (JKJB) untuk berobat ke rumah sakit.

"Kami tidak tahu BPJS, tidak pernah ada yang memberi tahu. Kami kadang berobat ke alternatif, tapi tidak ada perubahan," ujar Dumpui saat ditanya soal BPJS.

Pulau Lepar adalah bagian administrasi Pemkab Basel, yang harus ditempuh melalui penyeberangan kapal dari daratan Pulau Bangka, tepatnya di pesisir Sadai.

Sementara, anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Tanjunglabu, Kecamatan Lepar, Kabupaten Bangka Selatan, Wasito mengaku bingung soal program Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Tinggal di pulau terpencil, membuat Wasito dan warga lainnya tidak menerima sosialisasi yang memadai mengenai BPJS. Dia memastikan sebagian besar warga di Pulau Lepar dan Pongok tidak mengantongi kartu BPJS.

"Cara mendaftarnya bagaimana, karena banyak warga kami sakit, bingung kalau harus dirujuk. Memang sekarang ada JKJB (Jaminan Kesehatan Junjung Besaoh) dari Pemkab Basel tetapi BPJS lebih luas penggunaannya," kata Wasito.

Dia sebagai bagian dari aparat desa tidak mampu berbuat banyak. Akses yang dia terima terbatas, baik informasi dari pemda maupun pihak BPJS.

Bagi Wasito, banyak warga miskin di Tanjunglabu yang perlu dibantu melalui BPJS. Dia bertanya-tanya, apakah ada program BPJS bagi warga tidak mampu. "Cara bayarnya seperti apa, harus kemana, lewat mana daftarnya. Itu membuat kami bingung," ujarnya.

Anggota DPRD Babel dapil Bangka Selatan Rina Tarol yang menjenguk Windo mengaku miris melihat kondisi warga di pulau terpencil. Dia mendesak Dinas Kesehatan Basel lebih aktif turun ke lapangan melihat keadaan warga. Apalagi, program BPJS Kesehatan merupakan kebijakan pemerintah pusat.

"Langkah pertama adalah Windo harus dirawat secara medis, sambil mengurus BPJS Kesehatan. Sementara dia pakai JKJB dulu. Untuk kasus busung lapar seperti ini, tidak boleh dianggap enteng. Pemkab Basel semestinya turun tangan," kata Rina.
Selanjutnya, dia bersama anggota Komisi IV DPRD Babel lainnya akan mengundang pihak BPJS Kesehatan untuk mendapat kejelasan soal program BPJS Kesehatan bagi warga miskin di pulau terpencil. (day)

Penulis: Alza Munzi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved