Ceng Beng di Bangka Unik
BUNYI gendang dan dentuman kembang api menandai puncak perayaan Ceng Beng atau Sembahyang Kubur di Pekuburan Sentosa, Jalan
"Yang datang ini orang yang berhasil secara materi. Keluarga, anak-anaknya, berhasil. Jadi, setiap tahun mereka datang dari mana-mana terutama dari Cina, Hongkong, Kanada, Australia, dan Singapura. Mereka secara rutin bisa pulang tiga sampai lima hari di Pangkalpinang," kata Johan.
Salah seorang warga Tionghoa, Kurniawati (25) sengaja berziarah ke makam leluhur pada acara puncak Ceng Beng di Pekuburan Sentosa karena ingin merasakan kemeriahannya.
"Sejak pukul 04.30 WIB, saya sudah ada disini. Saya sengaja mengambil hari H-nya agar bisa merasakan Ceng Beng. Di hari puncak Ceng Beng biasanya orang yang ziarah lebih banyak," ujar Kurniawati ditemui Bangka Pos saat melakukan ziarah ke makam neneknya, kemarin.
Dia berharap tahun depan Festival Ceng Beng di Pangkalpinang lebih meriah lagi. Apalagi menurutnya, pariwisata Pulau Bangka sudah dikenal dan Pekuburan Sentosa disebut-sebut sebagai pekuburan warga Tionghoa terbesar se-Asia.
Harapan sama disampaikan Nurdin Purnomo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia (PB PLBSI) dan Orang Tionghoa Bangka (OTB). Menurutnya, Festival Ceng Beng di Babel harus dikembangkan lagi agar terkenal di dunia.
"Warga Tionghoa di Bangka ini unik, kebudayaannya masih ada seperti ini, makanya harus dikembangkan lagi. Festival Ceng Beng ini masih tradisional. Suatu kebudayaan yang masih unik dilihat orang, sangat bagus sekali dan masih bisa dilestarikan di Bangka. Sedangkan di Indonesia, kebudayaan itu sudah berkurang. Kebudayaan itu ciri khas dari setiap daerah, kalau pantai dan indahnya matahari itu semua sudah ada," ujar Nurdin.
Nurdin mengungkapkan, Pekuburan Sentosa Pangkalpinang yang luasnya sekitar 20 hektare terdapat 12.000 makam.
"Dengan adanya acara Festival Ceng Beng yang masih tradisional dan unik ini, kita tidak perlu lagi promosi, orang akan datang sendiri asal tetap mempertahankan budaya. Apalagi saat mereka datang kesini ada kulinernya, nanti kesini bisa tiga kali. Warga Tionghoa itu sekitar 10 juta menyebar di seluruh Indonesia," kata Nurdin. (n4/n5)