Tak Ada Yang Berani Pasang Nisan Makam Syech Abubakar Abdullah
Warga Desa Kacang Butor yang biasa dikenal sebagai penjaga situs Gunong Tajam Sutirta (38) mengaku menemukan potongan nisan
Laporan wartawan Pos Belitung, Wahyu K
BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Warga Desa Kacang Butor yang biasa dikenal sebagai penjaga situs Gunong Tajam Sutirta (38) mengaku menemukan potongan nisan Makam Syech Abubakar Abdullah ketika menyisir area di sekitar situs cagar budaya tersebut bersama pihak kepolisian, Senin (6/4/2015) pagi. Potongan yang ditemukan yakni bagian tengah nisan dengan jarak kurang lebih 40 meter dari makam.
Menurutnya, dari temuan itu tampak batu nisan seperti dipotong menjadi tiga bagian. Bagian bawah yang menancap ke tanah dan bagian atas yang menyerupai pion catur hingga kini belum diketahui keberadaannya.
“Potongan nisan itu sekarang disimpan di dekat makam, saya dak berani memasangnya ke tempat semula, harus dibicarakan dengan dulu bersama-sama,” kata Sutir kepada Pos Belitung, Senin (6/4/2015) sore.
Ia mengaku tidak pernah mendapat firasat atau mimipi aneh pada malam sebelum melakukan pencarian nisan. Ia pun mengaku tak habis pikir melihat kondisi nisan yang hilang ditemukan dalam kondisi tidak utuh.
Makam Syech Abubakar Abdullah merupakan situs cagar budaya yang sudah ditetapkan dalam Perda Kabupaten Belitung Nomor 3 Tahun 2014 Tentang RTRW Kabupaten Belitung 2014-2034. Makam ini tepatnya berada di Bukit Gunong Tajam Laki dengan ketinggian 510 meter di atas permukaan laut.
Dalam dokumen pendataan cagar budaya Dikbud Kabupaten Belitung 2014 disebutkan, situs ini merupakan makam seorang penyiar agama Islam di Pulau Belitung. Namun belum diketahui pasti waktu pembangunan situs yang juga dikenal dengan nama Keramat Gunong Tajam ini.
Syech Abubakar Abdullah alias Sayyid Hasan bin Abdullah berasal dari Kerajaan Pasai di Aceh. Ia datang menyebarkan agama Islam di Belitung pada akhir abad ke-17, bersama beberapa mubaligh Pasai lainnya. Memasuki abad ke-18, banyak penduduk Belitung yang telah memeluk Islam, sehingga Syech menjadi sangat terkenal dan disegani.
Pengaruhnya yang besar terhadap rakyat dirasakan sebagai ancaman oleh Raja Balok saat itu, Depati Tjakraningrat IV/KA Bustam/Depati Galong (1700-1740).
Melalui cara yang licik, riwayat hidup Syech Abubakar Abdullah berakhir di tangan Depati Galong yang takut kehilangan tahtanya.
Mulanya Syech dimakamkan di hulu Sungai Aik Batu Buding, kemudian dipindahkan ke Gunong Tajam berdasarkan pesan yang disampaikan Syech sebelumnya kepada murid kesayangannnya yakni Tuk Kundo. Syech berpesan bahwa ia ingin dimakamkan di antara bumi dan langit yaitu puncak Gunong Tajam. (Dikutip dari dokumen Pendataan Cagar Budaya Kabupaten Belitung tahun 2014, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belitung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/makam-syech-abubakar-abdullah_20150406_215407.jpg)