Breaking News:

Opini: Pamor Ujian Nasional 2015

Ujian Nasional yang menjadi agenda rutin di negara tercinta ini, mulai digelar pada tingkat Sekolah Menengah Atas dan

Kompas.com
Ilustrasi: Sebanyak 40 unit komputer di dalam satu ruang kelas disediakan pihak SMA Negeri 78, Jakarta Barat, untuk melaksanakan Ujian Nasional (UN) Computer Based Test (CBT). 

Opini: Kartika Sari, M.Pd.I Kepala SMA Muhammadiyah Pangkalpinang

Ujian Nasional yang menjadi agenda rutin di negara tercinta ini, mulai digelar pada tingkat Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan. Berbicara Ujian Nasional tahun ini, ada yang menarik untuk di bahas dan di kaji. Apa yang menjadi menarik di Ujian Nasional tahun ini? Yang menarik adalah hasil Ujian Nasional yang tidak lagi menentukan kelulusan siswa. Hal ini menjadikan kebahagiaan tesendiri baik bagi orang tua yang putra putrinya mengikuti Ujian Nasional tahun ini, tentunya hal inipun disambut baik oleh para siswa, guru, dan masyarakat yang kontra dengan dilaksanakan Ujian Nasional ini.

Sebenarnya Ujian Nasional tidak lagi sebagai penentu kelulusan sudah bisa diprediksi oleh berbagai kalangan khususnya para akademisi, menginggat kebijakan-kebijakan dalam penyelenggaraan Ujian Nasional yang selalu terus berubah setiap tahunnya, dari kebijakan jumlah paket soal dan sampai pada sistem Ujian Nasional On Line untuk tahun ini. Komentar masyarakat terutama orang tua tidak lagi ramai membicarakan soal Ujian Nasional ini. Biasanya Ujian Nasional selalu diributkan dan dijadikan momok bagi siswa, orang tua, termasuk sekolah. Tahun ini nampaknya agak sepi dengan bergulirnya kebijakan tentang diberlakukannya Ujian Nasional yang tidak lagi menentukan kelulusan siswa.

Kembalinya fungsi satuan pendidikan
Selama bergulirnya sistem Ujian Nasional pada tahun-tahun sebelumnya, dimana Ujian Nasional ikut menjadi penentu kelulusan siswa, menjadikan fungsi dari satuan pendidikan (sekolah) baik tingkat dasar sampai ketingkat menengah mengalami penurunan. Kita ketahui bersama bahwa salah satu fungsi satuan pendidikan adalah Sekolah yang menjadi tempat dimana para peserta didik menempuh proses pendidikan seolah-olah tidak memiliki hak untuk menentukan kelulusan siswanya apalagi pada awal dibelakukan Ujian Nasional. Mengapa demikian? Karena proses belajar para siswa selama 6 tahun pada tingkat dasar, dan 3 tahun pada tingkat menengah hanya ditentukan oleh hasil dari Ujian Nasional saja, padahal menurut banyak pihak yang lebih berhak menentukan kelulusan siswa adalah satuan pendidikan itu sendiri.
Kita ambil contoh, saat sekolah tersebut memiliki siswa yang inputnya baik, secara kognitifnya cerdas tentunya akan memiliki tingkat kelulusan Ujian Nasional yang tinggi. Sebaliknya apabila dalam sebuah sekolah inputnya kurang baik, atau secara kognitif kualitasnya rendah, maka akan berkemungkinan besar dengan sistem evaluasi yang lama akan menghambat masa depan mereka. Padahal saat melakukan sebuah proses ada hal yang lebih menonjol yang dimiliki oleh beberapa siswa seperti peningkatan pada aspek psikomotorik dan afektifnya. Namun karena kedua aspek tersebut tidak menjadi faktor penentu kelulusan siswa, akhirnya siswa yang bersangkutan tidak dapat dinyatakan lulus dan akhirnya hal tersebut akan merugikan peserta didik tersebut karena gagal dalam menenpuh Ujian Nasional.
Rasanya kebijakan yang digulir oleh pemerintah tahun ini patut diberikan apresiasi walaupun pola pelaksanaanya belum dapat kita rasakan hasilnya, dan kemungkinan kendala-kendala akan banyak di jumpai dalam pelaksanaannya, seperti hari pertama pelaksanaan UN sistem on line yang terkendala di beberapa daerah. Tetapi paling tidak kebijakan tahun ini hasil pelaksanaan UN tidak merugikan para siswa itu sendiri. Dan yang lebih penting perubahan pola Ujian Nasional kali ini berangsur-angsur akan mengembalikan fungsi dari satuan pendidikan yang selama ini merasa tidak berdaya dengan kebijakan-kebijakan yang menyangkut Ujian Nasional dengan pelaksanaannya yang syarat dengan kecurangan-kecurangan baik yang dilakukan oleh siswa maupun yang dilakukan oleh oknum di luar siswa itu sendiri yang akhirnya berimplikasi terhadap karakter bangsa kita.
Hasil Ujian Nasional (UN) memang sepatutnya hanya dijadikan sebagai alat evaluasi untuk memetakan kualitas pendidikan kita, bukan dijadikan sebagai acuan penentu kelulusan siswa. Dengan demikian, meski Ujian Nasional tidak sebagai penentu kelulusan siswa tahun ini, bukan berarti akan menurunkan pamor Ujian Nasional, karena ada beberapa pihak merasa khawatir akan terjadi penurunan motivasi dalam mengikuti Ujian Nasional tahun ini.
Kekhawatiran itu sangat beralasan, namun harus kita ketahui pula bahwa selain untuk pemetaan, Ujian Nasional juga sebagai syarat melanjutkan studi kejenjang berikutnya. Artinya lulusan yang memperoleh predikat amat baik dan baik tentunya bisa berkompetisi untuk melanjutkan masuk ke jenjang yang lebih tinggi, dan satuan pendidikan termotivasi pula untuk berusaha melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas baik secara kognitif, psikomotorik, dan afektif, dan terus berikhtiar dalam meningkatkan mutu pendidikan pada satuan pendidikannya tanpa harus ketakutan dengan adanya pelaksanaan Ujian Nasional .
Kembalinya fungsi satuan pendidikan ini, tentunya juga akan menjadikan sekolah lebih mampu berkembang untuk mencapai visi dan misi serta tujuan nasional serta pemenuhan Standar Pendidikan Nasional. Artinya sekolah memiliki hak penuh dalam mengembangkan potensi peserta didik dan menentukan hasil dari proses pengembangan potensi tersebut. Tidak mustahil apabila pelaksanaan Ujian Nasional ini tetap dilakukan evaluasi-evaluasi secara konsisten akan menata kembali wajah pendidikan kita menuju pendidikan yang bermutu sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri.(*)

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved