Breaking News:

Bahaya Demam Berdarah Mengintai Orang Gemuk

Sejak ditemukan pertama kali di kota Surabaya pada tahun 1968, kasus Demam Berdarah Dengue atau lebih dikenal

Bahaya Demam Berdarah Mengintai Orang Gemuk
NET
ILUSTRASI

Opini: Andra Yuliandi Yulizarman, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Padang

Sejak ditemukan pertama kali di kota Surabaya pada tahun 1968, kasus Demam Berdarah Dengue atau lebih dikenal dengan DBD semakin meningkat di Indonesia. Penyakit yang merupakan momok di tengah masyarakat ini pada awal ditemukan hanya sebanyak 58 kasus, namun pada tahun 1998 telah terjadi wabah dengan angka kematian tertinggi yaitu sebanyak 1.414 orang.

Kematian akibat DBD terutama terjadi pada anak -anak, dimana penderita DBD paling banyak adalah anak-anak. WHO melaporkan penderita terbanyak kasus DBD di dunia berkisar antara usia 5-15 tahun.

Kematian pada penderita DBD diakibatkan oleh komplikasi penyakit yang ditimbulkan. Syok merupakan salah satu komplikasi fatal yang sering merenggut nyawa penderita. Syok terjadi karena ketidakmampuan tubuh mengkompensasi cairan tubuh yang hilang.

Pada kasus DBD, kehilangan cairan tubuh terjadi melalui kebocoran kecil yang terus meluas pada pembuluh darah yang diakibatkan oleh system imun tubuh yang agresif akibat terpapar oleh virus dengue. Tanda awal kebocoan pembuluh darah dapat terlihat dengan adanya bercak atau bintik pada kulit penderita DBD.

Kebocoran pembuluh darah yang lebih berat dapat terjadi pada saluran pencernaan, sehingga penderita mengalami perdarahan pada saluran pencernaan. Demam bifasik atau lebih dikenal dengan demam pelana kuda merupakan pola demam yang khas pada penderita DBD, dimana di antara dua kali demam terdapat fase demam turun seolah-olah sembuh.

Mengintai pemilik tubuh sedang dan gemuk

Ada yang unik pada penderita DBD, berbagai komplikasi yang terjadi akibat DBD lebih cenderung mengenai penderita dengan ukuran tubuh sedang dan gemuk, dalam arti lain tidak mengalami kurang gizi. Hal ini dibuktikan oleh beberapa penelitian di Negara tropis seperti Indonesia dan Thailand. Salah satu penelitian menyebutkan diantara seluruh penderita DBD yang mengalami komplikasi, 91 persen diderita oleh orang dengan gizi normal dan lebih.

Secara teori, orang dengan gizi normal yang lebih memiliki respon sistem imun tubuh yang baik. Sistem imun yang baik akan berespon cepat dan agresif ketika terpapar virus, sehingga komponen dari sistem imun tersebut memicu terjdinya kebocoran pembuluh darah. Kebocoran pembuluh darah yang berat akan berakibat banyaknya cairan tubuh yang hilang.

Tidak hanya sel darah dan trombosit saja, namun komponen zat gizi, mineral, dan elektrolit yang terdapat pada darah juga banyak yang hilang. Jika tidk segera teratasi pada akhirnya tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi sehingga berakibat syok dan berujung pada kematian.

Penanganan dimulai dari pencegahan

Penanganan DBD lebih baik dimulai pada tahap pencegahan atau preventif. Dimana tindakan tindakan sederhana yang populer dengan 3M (Menguras penampungan air, Menutup penampungan air, Mengubur barang bekas) dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari.

Menggunakan kelambu dan tidak membiarkan banyak pakaian tergantung juga dapan mencegah nyamuk bersarang. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah dalam rangka pemberantasan DBD di Indonesia, seperti pengasapan atau fogging yang dapat membunuh nyamuk termasuk nyamuk aedes agypti yang menjadi penular virus DBD.

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved