Ini Alat Musik Gambangan Khas Belitong Hasilkan Nada Merdu
Alunan musik perkusi menyerupai suara marimba terdengar dari atas pondok setinggi lima meter di Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung T
Laporan wartawan Pos Belitung, Wahyu K
Alunan musik perkusi menyerupai suara marimba terdengar dari atas pondok setinggi lima meter di Desa Lilangan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, Minggu (3/5) siang. Agak aneh memang karena suara marimba biasa terdengar dalam pementasan orkestra atau musik jazz di Amerika dan Eropa.
Pos Belitung pun harus naik ke atas pondok untuk mengetahui dengan jelas sumber suara tersebut. Setelah sampai di atas, tampak seorang perempuan tua sedang memainkan alat musik perkusi sambil dikelilingi oleh sejumlah remaja putri.
“Ini namanya Gambangan, asli Belitong,” ujar perempuan bernama Repiah (65) itu kepada Pos Belitung.
Gambangan ternyata merupakan alat musik yang sudah ada sejak zaman nenek moyang Repiah. Memainkannya sama seperti alat musik marimba atau juga gamelan di Jawa dan Bali.
Bahannya terbuat dari kayu lempung atau kayu yang ringan seperti meranti, medang, libut, dan sengkrubong. Penggunaan jenis kayu tersebut kata Repiah sangat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan oleh Gambangan.
Kayu nomor satu yang dianggap paling bagus adalah kayu cengal dan kayu berubok. Sayang kedua jenis kayu ini sudah sangat langka dan sulit ditemukan.
“Saya dulu belajar dari nenek saya, rata-rata orang-orang tua di kampung ini bisa memainkannya,” kata Repiah.
Tak lama berselang, datang Yasin (63) yang masih keluarga dekat Repiah. Yasin langsung mengambil alih posisi saudaranya tersebut dan menampilkan permainan Gambangan bertempo tinggi. Ternyata alat musik perkusi ini bisa dimainkan secara duet.
Dalam istilah lokalnya, posisi Repiah yang berada di samping Gambangan disebut Ningkak. Fungsinya melengkapi variasi pukulan yang dimainkan oleh Yasin sebagai pemain utama.
Yasin menjelaskan, alat musik Gambangan terdiri dari tujuh potong kayu. Terkadang dalam kondisi tertentu bisa hanya menggunakan lima potong kayu.
“Setiap potong kayu punya suara sendiri-sendiri, potongannya bisa panjang bisa pendek, yang beda nanti tinggal besar kecilnya suara yang dihasilkan, tapi bunyinya tetap sama,” kata Yasin.
Juman (52) mengatakan, memainkan alat musik Gambangan sama halnya seperti instrument lainnya. Pemainnya harus memiliki cita rasa nada yang baik dan tentunya punya bakat di bidang musik.
Ia sendiri mengaku bisa memainkan alat musik tersebut. Namun lantaran tak punya bakat, ia lebih memilih menjadi penikmat musik Gambangan.
“Semakin bagus kepekaan seseorang pada nada, semakin bagus pula permainannya, makanya setiap pemain itu punya ciri khasnya masing-masing,” kata Juman.
Ia menjelaskan, pada awalnya Gambangan berkembang sebagai bagian dari budaya agraris Belitong yang dikenal dengan nama ume. Gambangan dimainkan di atas pondok yang menjulang tinggi hingga lebih dari lima meter.
Usir Hama
Selain untuk menghibur diri sembari menunggui padi. Alunan musik Gambangan juga digunakan untuk menjaga padi dari gangguan hama kera dan binatang liar lainnya.
“Biasanya juga permainan ini digunakan untuk muda mudi yang sedang kasmaran, mereka akan memainkan gambangan untuk berkomunikasi dengan pasangannya yang tinggal di ume yang lain,” kata Juman.
Permainan Gambangan di Desa Lilangan tampil sebagai salah satu atraksi kesenian dalam pelaksaan tradisi Maras Taun, Minggu (3/5). Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun untuk menyampaikan rasa syukur pada Tuhan atas hasil panen tahun lalu dan sekaligus memanjatkan doa untuk hasil yang lebih baik pada tahun depan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/gambangan-khas-belitong_20150505_110339.jpg)