Opini : Transformasi Puskesmas

Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya

Opini : Transformasi Puskesmas
bangkapos.com/edwardi
Ilustrasi: Gedung ruang rawat inap Puskesmas Riausilip.

Opini: Zulyan SKM, Kepala Puskesmas Simpangkatis Kabupaten Bangka Tengah

Fasilitas Pelayanan Kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 74 Tahun 2014, Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.

Pembangunan kesehatan yang diselenggarakan di Puskesmas bertujuan untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki perilaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat; mampu menjangkau pelayanan kesehatan bermutu hidup dalam lingkungan sehat; dan memiliki derajat kesehatan yang optimal, baik individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.

Sedangkan prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi paradigma sehat; pertanggungjawaban wilayah; kemandirian masyarakat; pemerataan; teknologi tepat guna; serta keterpaduan dan kesinambungan.

Puskesmas yang dulunya identik dengan Fasilitas Kesehatan yang menyelenggarakan kegiatan kuratif dan rehabilitatif, tetapi seiring dengan perkembangan zaman serta kemajuan pembangunan kesehatan maka Puskesmas harus mampu menjalankan fungsi/upaya promotif dan preventif.

Promotif, Promosi Kesehatan merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat melalui proses pembelajaran dari-oleh-untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat, sesuai dengan kondisi sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.

Menolong diri sendiri artinya bahwa masyarakat mampu berperilaku mencegah timbulnya masalah-masalah dan gangguan kesehatan, memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan serta mampu pula berperilaku mengatasi apabila masalah gangguan kesehatan tersebut terlanjur terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Berbagai masalah kesehatan yang sering terjadi di Indonesia, termasuk timbulnya Kejadian Luar Biasa (KLB) yang erat kaitannya dengan perilaku masyarakat itu sendiri. Sebagai contoh KLB Diare dimana penyebab utamanya adalah masih rendahnya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti kebiasaan buang air besar sembarangan (tidak di jamban), perilaku cuci tangan pakai sabun masih sangat rendah, minum air yang tidak sehat, dan lain-lain. Promosi kesehatan bukan hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan saja, tetapi juga disertai upaya-upaya memfasilitasi perubahan perilaku.

Dengan demikian promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan perilaku baik di dalam masyarakat atau dengan kata lain promosi kesehatan tidak hanya mengaitkan diri pada peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku kesehatan saja, tetapi juga meningkatkan atau memperbaiki lingkungan dalam rangka memelihara dan meningkatkan kesehatan masyarakat.

Halaman
123
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved