Breaking News:

Opini: Kurangi Risiko Kanker Serviks

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah kanker terbanyak pada perempuan. Menurut Globocan

Shutterstock
Ilustrasi 

Opini: Yosep SutandarStaff Magang Divisi Onkologi Ginekologi, Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RS. Dr.Cipto Mangunkusumo

Kanker serviks atau kanker leher rahim adalah kanker terbanyak pada perempuan. Menurut Globocan (sumber data kanker internasional) tahun 2012, kanker serviks merupakan kanker terbanyak keempat pada wanita.

Dalam sehari, terdapat 40-45 kasus baru yang ditemukan dengan angka kematian 1 kasus per dua menit. Di Indonesia sendiri, menurut data Inasgo (http://inasgo.org), jumlah kasus kanker serviks dalam 5 tahun terakhir sebesar 6.472 kasus dengan lebih dari separuhnya sudah dalam keadaan stadium lanjut.

Menurut data RSUPN Cipto Mangunkusumo, terdapat 2.716 kasus kanker serviks yang didiagnosis dalam 5 tahun terakhir dengan angka kematian 2 kasus per bulannya.

Sekitar 99,7% penyebab kanker serviks adalah Human Papillomavirus (HPV) tipe 16 dan tipe 18. Tidak seperti kanker pada umumnya, faktor genetik tidak terlalu berperan dalam terjadinya kenker serviks.

Kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah. Seorang wanita yang menikah pada usia kurang dari 20 tahun, memiliki banyak mitra seksual, pernah menderita infeksi menular seksual (IMS), merokok, serta kekurangan asupan nutrisi seperti vitamin dan mikronutrien lebih berisiko untuk terkena kanker serviks. Kanker serviks dapat diderita siapa saja tanpa terkait usia dan status ekonomi. Wanita dari kalangan manapun dapat menderita kanker serviks.

Gejala kanker serviks

HPV dapat ditemui di lingkungan sehari-hari tanpa terlihat dengan mata telanjang. Infeksi virus ini tidak memberikan gejala yang terlihat signifikan seperti layaknya infeksi lainnya. Oleh karena itu, infeksi HPV dapat terjadi dan menyebabkan lesi prakanker tanpa diketahui serta
menetap bertahun-tahun. Dalam 3-17 tahun, infeksi HPV dapat menyebabkan kanker serviks. Gejala kanker serviks sangat bervariasi, namun gejala yang paling sering dikeluhkan adalah perdarahan melalui jalan lahir yang bukan dalam siklus menstruasi, keputihan yang berbau busuk dengan/tanpa darah, nyeri pada panggul, nyeri saat berhubungan seksual, dan perdarahan setelah berhubungan seksual.

Pada umumnya, lesi prakanker tidak memberikan gejala sehingga masyarakat baru mencari pertolongan ke tenaga kesehatan saat penyakit sudah menjadi kanker serviks. Padahal, lesi prakanker dapat dideteksi dan disembuhkan dengan hasil 100% sembuh dibandingkan dengan kanker serviks yang tidak dapat disembuhkan total.

Dewasa ini, masyarakat Indonesia mulai menyadari pentingnya kesehatan dan pencegahan penyakit. Pencegahan kanker serviks dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melakukan pencegahan primer dengan vaksinasi virus HPV. Vaksinasi HPV dapat mengurangi risiko kanker serviks sebesar 70-80%. Vaksinasi dapat dilakukan kapan saja, namun sebaiknya dilakukan pada usia 9-13 tahun atau sebelum melakukan hubungan seksual.

Halaman
12
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved