Rumah Pohon SDN 3 Sungailiat Jadi Arena Belajar dan Bermain
Beberapa siswa SDN 3 Sungailiat saat bel tanda istirahat berbunyi, Rabu
Penulis: nurhayati | Editor: edwardi
Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Beberapa siswa SDN 3 Sungailiat saat bel tanda istirahat berbunyi, Rabu (10/6/2015) langsung berlarian ke halaman sekolah yang rindang dan teduh oleh pepohonan.
Di halaman sekolah ini ada pohon beringin yang usianya sudah puluhan tahun menjadi peneduh.
Di pohon ini dibangun rumah pohon berukuran sekitar 3x2 meter yang dicat biru merah, hijau dan kuning yang menjadi arena bermain dan belajar bagi para siswa.
Beberapa anak terlihat memanjat pohon sambil bermain di dalam rumah pohon.
"Rumah pohon ini memang kami buat untuk anak-anak tiga tahun lalu. Dulu belum ada tangganya karena khawatir anak-anak jatuh maka sekarang dibuat tangga supaya mereka lebih aman. Biasanya rumah pohon ini digunakan anak-anak untuk membaca buku pelajaran, istirahat atau menikmati makan siang. Pak Ismi sering duduk bersharing dengan anak-anak di dalam rumah pohon itu," ungkap Kepala SDN 3 Sungailiat Enung Nurbaeti kepada Bangkapos.com, Kamis (11/6/2015) di SDN 3 Sungailiat.
Diakui Guru Kelas 5 SDN 3 Sungailiat Ismi, rumah pohon ini dijadikan tanam baca bagi para siswa. Biasanya para siswa sering membaca buku-buku yang dipinjam di perpustakaan untuk dibaca di rumah pohon itu.
Saat pelajaran berkenaan dengan alam seperti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) ia sering mengajak siswanya belajar di rumah pohon dan di halaman sekolah agar siswa lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan dan bisa belajar langsung dari alam.
Di halaman sekolah ini ditanam berbagai pohon khas Bangka dari pelawan, keramunting, isut-isut, nasi-nasi hingga jeruk kunci.
Selain itu juga ditanam pohon ketapang dan mahoni sebagai peneduh sekolah. Para guru dan siswa SDN 3 Sungailiat membudidayakan sendiri bibit pohon ketapang untuk dibagikan kepada masyarakat.
Di sekolah ini juga hasil limbah dari pohon sejak tahun 2013 dijadikan kompos. Sekarang ini pengolahan kompos sudah dipasarkan baik dibeli para orang tua siswa maupun masyarakat di sekitar sekolah.
"Pupuk organik kami jual sekilonya Rp 5000. Lima bulan sekali bisa menghasilkan sekitar 180 kg. Dari hasil pupuk organik inilah untuk biaya makan burung perkutut dan kutilang yang kita pelihara di halaman sekolah," jelas Ismi.
Selain itu untuk sampah organik maupun non organik seperti ranting kayu, koran, kulit telor, sedotan, kulit jagung, botol plastik, pelepah sagu hingga kelopak pinang dijadikan berbagai kerajinan mulai dari miniatur kapal, kotak tisu, bunga, hingga kertas daur ulang menjadi kreasi yang unik dan menarik yang dibuat para siswa SDN 3 Sungailiat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/rumah-pohon-sdn-3_20150611_205900.jpg)