Breaking News:

Opini : Hilal Ramadhan 1436 H

Sejak awal kelahirannya, umat Islam telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya mengetahui dan memahami

Bangkapos/Riki Pratama
Petugas yang sedang mencoba teropong vixion pada Rukyatul Hilal Awal Ramadhan pada Selasa (16/6/2015) di Pantai Tanjung Raya, Desa Penagan, Kecamatan Mendo Barat , Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Opini: Ahmad Fadholi, Pengajar Ilmu Falak Pondok Pesantren Bahrul Huda dan Pemerhati Ilmu Falak STAIN SAS Babel

Sejak awal kelahirannya, umat Islam telah memiliki kesadaran mengenai pentingnya mengetahui dan memahami peredaran benda-benda langit (Matahari, Bulan, planet-planet, dan lain sebagainya). Pengetahuan dan pemahaman inilah yang menjadi cikal bakal kajian ilmu falak atau astronomi. Kaum muslimin mulai mengembangkan ilmu falak atau astronomi yang lebih akurat sejak mereka harus melakukan navigasi di tengah laut, baik ketika berbisnis atau berjihad ke negeri seberang.

Pengetahuan tentang ilmu falak yang awalnya sangat sederhana itu memiliki manfaat teoritis dan praktis yang tak ternilai pada masanya. Terutama karena teknologi penunjuk arah, waktu, dan sistem penanggalan dalam pengertian modern (jam dan kalender) belum dikenal. Perkembangan ilmu astronomi pun belum berkembang seperti sekarang. 

Penentuan awal bulan qamariyah, terutama awal bulan Ramadhan dan Syawal merupakan persoalan yang penting bagi umat Islam, karena menyangkut pelaksanaan ibadah, yaitu memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan. Walaupun persoalan ini penting, namun realitasnya di Indonesia seringkali terjadi perbedaan dalam penetapannya. Muara perbedaan tersebut sebenarnya tidak berbeda dengan muara perbedaan pemikiran para fuqaha dahulu, yaitu pada perbedaan pemahaman hadis-hadis hisab rukyah.

Pemaknaan Rukyah

Dalam penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal, pijakan yang digunakan adalah ayat-ayat al-Qur'an dan hadis rukyah, diantaranya hadis yang diriwayatkan dari Abdurrahman ibn Salam al-Jumahi, dari al-Rabi' (ibn Muslim), dari Muhammad (yaitu Ibn Ziyad), dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: "Berpuasalah kamu karena melihat tanggal (hilal) dan berbukalah kamu karena melihat tanggal (hilal). Apabila pandanganmu terhalang oleh awan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Sya'ban (menjadi 30 hari)" (Shohih Muslim, t.t, 481: I).

Dari teks hadis tersebut, para ulama berbeda pendapat dalam menafsiri kata "ru'yah". Berawal dari perbedaan penafsiran tersebut, kemudian melahirkan dua madzhab besar dalam penentuan awal bulan qamariyah.

Pertama, ada yang memaknai kata rukyah bersifat ta'abudi-ghair ma'qul al-ma'na, artinya dalam hal ini kata rukyah dimaknai sebagai 'mengetahui' secara qath'i. Sehingga rukyah hanya diartikan sebatas melihat hilal dengan mata kepala, dikenal sebagai madzhab rukyah.

Kedua, madzhab yang memaknai kata rukyah bersifat ta'aqquli-ma'qul al-ma'na, dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan. Sehingga ia dapat diartikan antara lain 'mengetahui' sekalipun bersifat zhanni-dugaan kuat- adanya hilal, walaupun hilal berdasarkan hisab falaki tidak mungkin dapat dilihat. Madzhab ini dikenal sebagai madzhab hisab dimana penentuan awal dan akhir bulan qamariyah berdasarkan perhitungan falak.

Berakar dari dua madzhab besar tersebut lahir perbedaan dalam penetapan awal dan akhir bulan qamariyah, khususnya bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Di samping dua madzhab tersebut, ada juga pendapat yang berupaya menjembatani kedua madzhab tersebut yang mengartikan rukyah dengan "imkanur rukyah" (posisi hilal mungkin dapat dilihat). Dengan kata lain, bahwa yang dimaksud dengan rukyah adalah segala hal yang dapat memberikan dugaan kuat (zhanni) bahwa hilal telah ada di atas ufuk dan mungkin dapat dilihat. Madzhab ini dikenal dengan madzhab imkanur rukyah.

Menurut Al-Syarwani, penentuan awal bulan dapat ditetapkan berdasarkan hisab qath'i. Sehingga kaitannya dengan rukyah, bagaimana posisi hilal dinilai berkisar pada tiga keadaan, yaitu pertama, pasti tidak mungkin dilihat (istihalah al-ru'yah); kedua, mungkin dapat dilihat (imkan al-ru'yah); ketiga, pasti dapat dilihat (al-qath'u bi al-ru'yah). (Al-Syarwani, Hasyiyah Syarwani, t.t.: 373, II.)

Adapun bila keadaan hilal tidak dapat dirukyah karena ada gangguan cuaca, para ulama juga berbeda pendapat. Mereka menggunakan kata "faqduru lahu" (maka kadarkanlah) sebagai landasan. Menurut madzhab rukyah dalam hal ini adalah pendapat jumhur ulama, kata tersebut diartikan dengan sempurnakanlah bilangan bulan itu menjadi tiga puluh hari (istikmal). Sedangkan menurut madzhab hisab (dalam hal ini merupakan pendapat sebagian ulama), kata tersebut diartikan dengan "fa udduhu bil hisab" atau "faahsibu" (hitunglah bulan itu berdasarkan hisab). (Ibnu Qudamah, Asy-Syarhul Kabir li Ibni Qudamah, t.t.: 6, III:)

Hilal Ramadhan 1436 H
Bulan mengelilingi Bumi dari ijtima' satu dengan ijtima' lainnya, rata-rata lamanya 29h 12j 44m 3d (bulan sinodis) yang kemudian dibulatkan menjadi 29h 12j . Dengan tidak tetapnya peredaran bulan maka dalam masa satu tahun umur bulan berganti-ganti antara 30 hari dan 29 hari. Sedangkan untuk sisa per-bulan 44m 3d (dari perhitungan sinodis) maka dalam jangka satu tahun akan berjumlah 8j 48m 36d, setelah dilakukan perhitungan diketahuilah bahwa dalam 12 bulan atau 1 tahun adalah 354h 8j 48m. Sehingga jika kita cermati lebih lanjut, dapat kita ketahui dalam masa 30 tahun berjumlah 10631h 00j 18m 00d (Hambali, 2013: 25)
Pada awal Ramadhan 1436 H., ijtima' terjadi pada hari Selasa tanggal 16 Juni 2015 M. bertepatan tanggal 29 Sya'ban 1436 H., pukul: 21:7:23,25 WIB., pada saat Matahari terbenam seluruh wilayah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke hilal masih di bawah ufuk berkisar -2o 00" sd -4o00". Pada saat melakukan rukyah Bulan tidak akan terlihat atau tidak nampak diselurh wilayah Indonesia, karena ini ijtima terjadi setelah Matahari terbenam (ijtima' ba'dal ghurub).
Jika mengacu pada data ketinggian hilal diatas, maka madzhab rukyat akan Istkmal, dengan menyempurnakan umur di bulan Sya'ban menjadi 30 hari, sedangkan madzhab hisab juga akan menyempurnakan pada bulan Sya'ban 30 hari karena hilal belum wujud, dan madzhab imkanur rukyah akan menggenapkan 30 hari pada bulan Sya'ban. Maka dari sini sudah pasti bahwa penetapan awal bulan Ramadhan 1436 H., baik madzhab rukyat, madzhab hisab dan madzhab "imkanur rukyah" tidak terdapat perbedaan, sehingga awal bulan Ramadhan 1436 H., jatuh pada hari Kamis tanggal 18 Juni 2015 M. Selamat menunaikan ibadah puasa 1436 H(*)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved