Breaking News:

Opini: Menuju Pangkalpinang Smart City

Kita tentu sering mendengar banyak kota - kota besar di Indonesia yang menggaungkan jargon kota cerdas atau Smart

Bangkapos.com/dodi h
Ilustrasi: Sesudut di Alun-alun Taman Merdeka yang selalu ramai dikunjungi di Kota Pangkalpinang 

Opini: Rio Setiady, ST, Anggota DPRD Kota Pangkalpinang

Kita tentu sering mendengar banyak kota - kota besar di Indonesia yang menggaungkan jargon kota cerdas atau Smart City, bagi sebagian kita mungkin kata smart city masih terasa asing di telinga, padahal bisa jadi sebetulnya kita sudah berada di dalamnya atau minimal kita sudah merasakan manfaatnya.

Agar lebih mudah kita memahaminya apa perbedaan smart city (kota cerdas) dan city (kota) pada umumnya, bisa dikiaskan antara handphone dan smartphone. Jika handphone adalah alat komunikasi dengan hanya menyediakan fungsi

- fungsi dasar komunikasi seperti pesan singkat dan telepon, sedangkan smartphone memiliki kemampuan yang lebih canggih dari itu, selain bisa digunakan untuk menelepon dan mengirimkan pesan singkat, smartphone juga dapat dimanfaatkan untuk koneksi internet, GPS (Global potitioning system), internet banking, CCTV, video call, sosialita, dan banyak lagi fungsi lainnya.

Jadi jika ditarik benang merahnya, maka Smart City merupakan salah satu sistem berbasis pemanfaatan teknologi dan informasi untuk memaksimalkan sumberdaya yang ada agar pelayanan kepada masyarakat bisa maksimal. Tujuannya untuk menghubungkan, memonitor dan mengendalikan berbagai sumber daya dalam kota agar dapat digunakan secara lebih efektif dan efisien.

Konsep smart city

Dari sekian banyak konsep smart city, yang paling popular adalah konsep yang di gagas oleh IBM, yaitu salah satu perusahaan komputer ternama di Amerika. Perusahaan tersebut memperkenalkan konsep smart city untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan. Untuk menyukseskan konsep kota pintar ini, IBM menelurkan enam indikator yang harus dicapai.
Keenam indikator tersebut adalah masyarakat penghuni kota harus cerdas-terdidik (smart people), lingkungan nyaman dan berkelanjutan (smart environment), pertumbuhan ekonomi tinggi, masyarakat sejahtera secara finansial (smart economy), mobilitas masyarakat lancar (smart mobility), masyarakat berbudaya dan hidup berkualitas (smart living), dan tata kelola pemerintahan yang baik, adil, demokratis, partisipatif, akuntabel (smart governance).
.Dengan mengoptimalkan keenam indikator tersebut, konsep smart city bukan lagi sebuah wacana belaka. Namun, keenam indikator ini bisa lebih difokuskan atau dimaksimalkan salah satunya. Misalnya, kota Copenhagen. Kota yang ada di Denmark ini memfokuskan diri untuk pengoptimalan bidang lingkungan.
Karena hal ini, Copenhagen dianggap sebagai salah satu kota pintar di dunia. Predikat smart city juga dimiliki oleh Seoul. Ibu Kota Korea Selatan tersebut fokus pada pelayanan publik pada bidang teknologi informasi. Tidak aneh jika kota ini memiliki jaringan internet tercepat di dunia.
Satu hal yang perlu diingat, sebagus apapun sistemnya tetapi jika masyarakatnya dominan tak berpendidikan, moralitas yang buruk dan tak jelas apa dan bagaimana budayanya, hal justru akan menjadi "stupid city" yang ditandai dengan kesemrawutan di sana-sini, sampah di mana-mana, banjir, macet, kejahatan merajalela, ketimpangan ekonomi, tingginya angka kemiskinan dan kota akan jauh dari kata nyaman justru serasa hidup di neraka, tipe kota ini cepat atau lambat akan hilang dari peredaran.
Maka sebuah smart city bisa terwujud apabila masyarakatnya cerdas atau well educated, kritis, dan memiliki kesadaran tinggi untuk berpartisipasi aktif mendukung segala upaya yang baik bagi kemajuan kota untuk meraih kehidupan bersama yang lebih berkualitas. Peran dari seorang pemimpin pun cukup dominan disini, karena dari seorang pemimpinlah bakal lahir smart system atau sistem cerdas yang dapat menjawab persoalan-persoalan pembangunan sosial-budaya, fisik-lingkungan, dan ekonomi secara berkelanjutan.
Persoalan-persoalan yang dihadapi kota-kota di Indonesia adalah tidak terintegrasinya tiga aspek pembangunan tersebut di atas. Misalnya lebih fokus pada pembangunan fisik, asyik mempercantik kota, dan mengejar pertumbuhan ekonomi (makro), tetapi memberi porsi kecil untuk aspek sosial-budaya. Atau sibuk mengurusi aspek sosial-budaya sementara fasilitas fisik tetap buruk, akibatnya tidak mampu mendukung pertumbuhan ekonomi.

Smart people for smart city
Kita bersyukur Kota Pangkalpinang telah mencanangkan program wajib belajar 15 tahun. Ini saya kira suatu lompatan baik yang patut di apresiasi. Ketika kota lain sedang berjibaku dengan program wajib belajar 12 tahun, Pangkalpinang telah melampaui itu, sekalipun tetap harus di pantau terkait aspek kualitas akademisnya maupun aspek non akademisnya.
Aspek non akademis disini bisa dikatakan sebagai sebuah norma dan budaya masyarakatnya, saya kira adalah hal yang sia - sia jika kepandaian akademis yang tidak diiringi dengan akhlak dan tingkah laku terpuji. Buat apa kita memiliki segudang prestasi akademis, jika masnusianya tak lagi menghargai kejujuran, tak peduli dengan nilai - nilai luhur / agama yang ada di masyarakatnya.
Saya kira ini tantangan bagi pemerintah kota Pangkalpinang. Karena ternyata membangun manusia harus juga membangun kepribadiannya. Maka menjadi sesuatu yang wajib hukumnya bagi pemerintah kota, memberikan sebuah treatment ini kepada generasi muda Pangkalpinang, semaju apapun sebuah system ataupun teknologi, jika "a man behind the gun" -nya tak memiliki sebuah kecerdasan emosional dan spiritual, justru akan menjadi boomerang yang tak membawa manfaat apa - apa bagi daerah.
Sebuah kota dengan dukungan teknologi pintar dalam menunjang aktivitas sehari-hari tentu akan semakin memudahkan manusia. Hanya saja, konsep smart city ini tentu harus didukung dengan pola pikir dan perilaku manusia modern di kota tersebut, bukan hanya asal modern, tetapi sehat akal, sehat jiwa dan sehat raga.
Kesadaran akan lingkungan, pemanfaatan teknologi yang maksimal, serta kesadaran pentingnya pola hidup "cerdas" adalah hal-hal yang perlu diperhatikan juga. Tidak lucu bukan, jika sebuah kota mendapat predikat smart city, namun masih membuang sampah sembarangan, merusak atau mengambil fasilitas, serta hal-hal lainnya yang sifatnya negatif. Terlepas dari itu, smart city tampaknya bukanlah angan-angan belaka. Apalagi jika smart city ini didukung dengan cara berpikir dan bersikap yang cerdas, cerdas intelektual, cerdas emosional dan cerdas spiritual. (*)

Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved