Breaking News:

Babel News

Gelar yang Indah untuk Cile

Berakhir sudah penantian 99 tahun Cile dengan melakoni 173 pertandingan di pentas Copa America.

Tribunnews
Timnas Chile Juara Copa Amerika 

BANGKAPOS.COM, SANTIAGO -- Berakhir sudah penantian 99 tahun Cile dengan melakoni 173 pertandingan di pentas Copa America. Untuk pertama kalinya La Roja meraih trofi turnamen terbesar di Amerika Selatan tersebut, dengan mengandaskan perlawanan tim Tango Argentina lewat drama adu penalti di Stadion Nacional, Santiago, Minggu (5/7).

Cile menjadi juara dengan mengalahkan Argentina 4-1 di babak adu penalti, setelah kedua tim hanya mampu bermain tanpa gol di sepanjang 120 menit pertandingan. Kesuksesan menjadi juara ini tak lepas dari mental baja yang ditunjukkan Arturo Vidal dkk mengatasi tekanan pada momen krusial. Bukan bermental baja, Cile juga dinaungi keberuntungan, lantaran karena beberapa peluang Argentina--termasuk peluang emas Gonzalo Higuain di menit akhir babak kedua, gagal bersarang ke gawang Cile.

Belakangan di babak adu penalti, Higuain juga menjadi salah satu eksekutor gagal Argentina. Tendangannya melambung jauh di atas mistar gawang. Padahal kiper Cile, Claudio Bravo telah terkecoh dan melompat ke sisi kirinya. Selain Higuain, Ever Banega juga menjadi eksekutor gagal Argentina. Tendangan datar pemain Sevilla itu berhasil diblok Bravo.

Hingga kemudian Alexis Sanchez, menjadi penentu kemenangan Cile. Striker Arsenal itu sukses mengelabui kiper Argentina, Sergio Romero, dengan tendangan penalti ala Antonin Panenka. Meski tendangan panenka Sanchez tidak terlalu sempurna, namun tetap bisa mengecoh Romero yang telah meloncat ke arah kiri. Publik Santiago pun berpesta, merayakan trofi juara pertama mereka di level internasional.

"Gelar ini sesuatu yang indah bagi masyarakat Cile," ujar Arturo Vidal, yang menjadi salah satu eksekutor penalti Cile, seperti dilansir Reuters. “Kami masyarakat Cile butuh kemenangan seperti kejuaraan ini. Hari ini kami mengambil langkah besar. Kami yang terbaik di Amerika,” sambung pemain Juventus itu.

Sebaliknya bagi Argentina, kegagalan di laga final ini membuat mereka harus kembali gigit jari. Untuk ketiga kalinya di empat gelaran terakhir Copa America, La Albiceleste harus puas menjadi runner-up. Sebelum takluk dari Cile, Argentina juga dua kali takluk dari Brasil di gelaran Copa America 2004 dan 2007. Argentina pun kini menjadi kolektor runner-up terbanyak di pentas Copa America dengan catatan 13 kali menjadi runner-up.

Ironis bagi Argentina, kekalahan mereka kali ini tak lepas dari campur tangan salah satu anak bangsa mereka sendiri, Jorge Sampaoli. Pelatih 55 tahun itu menjadi otak di balik permainan Cile, yang berhasil menaklukkan Ekuador, Bolivia, Uruguay, dan Peru, sebelum menumbangkan negaranya sendiri di partai puncak.

Tak hanya itu, kemenangan Cile atas Argentina juga membuat Sampaoli menjadi pelatih pertama di ajang Copa America yang mengalahkan negara asalnya sendiri. Sampaoli pun mengaku sangat bangga dengan pencapaian timnya ini. “Saya harus angkat topi pada mereka. Mereka bermain dengan begitu berkelas dan tenang melawan tim yang memiliki banyak pemain bagus dan berkualitas,” ujar Sampaoli.

Meski demikian, Sampaoli tak mau melupakan timnas negaranya sendiri, khususnya kapten Lionel Messi. Di mata Sampaoli, Messi masih merupakan pemain terbaik dunia, meski gagal di final Piala Dunia 2014 dan Copa America 2015.

“Saya yakin jika Argentina mendapatkan kesempatan untuk mendominasi, Messi akan menunjukkan mengapa ia merupakan yang terbaik di dunia,” tegas Sampaoli. “Satu kekalahan, satu kekalahan di partai final, tidak akan mengubah siapa Lionel Messi.”

Sumber: babel news
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved