Dua Aktivis ICW Kembali Diperiksa Bareskrim

Romli menilai ketiganya telah mencemarkan nama baiknya melalui media massa antara lain Kompas, Tempo dan the Jakarta Post.

Dua Aktivis ICW Kembali Diperiksa Bareskrim
Ambaranie Nadia K.M
Koordinator ICW Adnan Topan Husodo dan pengamat politik Ray Rangkuti dalam diskusi 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menjadwalkan pemeriksaan dua aktivis Indonesia Corruption Watch (ICW), Adnan Topan Husodo dan Emerson Yuntho, pada hari ini, Jumat (31/7/2015), pukul 10.00 WIB. Keduanya akan diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh Romli Atmasasmita.

"Betul, keduanya diperiksa sebagai saksi atas laporan Romli Atmasasmita," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Suharsono, Jumat pagi.

Panggilan ini merupakan yang kedua kalinya setelah pada Senin (27/7/2015) lalu, keduanya belum selesai menjalani pemeriksaan. Adnan dan Emerson beranggapan perkara ini merupakan sengketa pers sehingga penyelesaiannya tidak melalui jalur hukum melainkan kode etik.

Kuasa hukum keduanya, Laola Ester, melalui siaran pers, Jumat, memastikan kliennya akan menghadiri pemeriksaan tersebut.

"Adnan dan Emerson akan didampingi oleh tim hukum yang dikoordinir oleh Febionesta," ujar Laola.

Kasus ini berawal dari pelaporan yang dilakukan Romli atas Emerson, Adnan, dan penasehat KPK Said Zainal Abidin pada 21 Meli lalu. Romli menilai ketiganya telah mencemarkan nama baiknya melalui media massa antara lain Kompas, Tempo dan the Jakarta Post.

Di sejumlah media itu, Emerson dinilai Romli telah mencemarkan namanya karena mengatakan rekam jejak Romli tidak ideal untuk mengikuti seleksi calon Pimpinan KPK. Sementara, Adnan menyebut, integritas dan komitmen Romli dalam pemberantasan korupsi dipertanyakan karena menjadi saksi ahli yang meringankan Budi Gunawan dalam sidang praperadilan.

Ada pun, Zainal menyebutkan, Romli pro koruptor karena menjadi saksi ahli di dalam sidang praperadilan Budi Gunawan.

Romli menganggap kalimat-kalimat pernyataan itu mencemari nama baiknya.

"Buat saya secara pribadi, pernyataan mereka-mereka itu sangat berharga. KPK itu undang-undangnya saya yang buat, tapi saya malah dianggap pecundang oleh mereka," ujar Romli.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved