Jejak Proklamator di Bangka
Wisma Ranggam Bangunan Kuno Bergaya Eropa
Wisma Ranggam atau sebelumnya dikenal dengan nama Pesanggrahan Muntok berlokasi di tengah permukiman penduduk ibukota Kabupaten Bangka Barat.
Penulis: Alza Munzi |
MUNTOK, BANGKA POS - Pesanggrahan Menumbing yang berada di ketinggian Gunung Menumbing, Muntok, Kabupaten Bangka Barat adalah satu dari beberapa tempat pengasingan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.
Selain di tempat itu, Bung Karno juga pernah tinggal di Wisma Ranggam, yang juga menjadi ikon perjuangan kemerdakaan RI di Muntok.
Wisma Ranggam juga yang menjadi lokasi pengasingan Menteri Luar Negeri Agus Salim, Wakil Perdana Menteri M Roem, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo, dan beberapa tokoh lainnya, pada kurun waktu tahun 1948 sampai 1949.
Wisma Ranggam atau sebelumnya dikenal dengan nama Pesanggrahan Muntok berlokasi di tengah permukiman penduduk ibukota Kabupaten Bangka Barat. Bekas-bekas keramaian kota tepi laut, masih terlihat di sekitar Wisma Ranggam, berupa beberapa bangunan kuno berdinding tinggi dengan arsitektur bergaya Eropa.
Juru pelihara Wisma Ranggam, Edi Rasidi (70) mengatakan, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi telah memperbaiki bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Imam Bonjol, Muntok itu sejak tahun 2003 dan menjadikannya sebagai cagar budaya.
Wisma Ranggam awalnya dibangun tahun 1827 oleh Banka Tin Winning (perusahaan tambang timah Belanda). Setelah Indonesia meraih kemerdekaan, perusahaan ini lalu dinasionalisasi dan berganti nama PT Penambangan Timah Bangka.
Bangunan berbahan kayu dan papan yang disebut pesanggrahan ini diubah Belanda tahun 1890 menggunakan tembok, tanpa mengubah arsitektur aslinya, karya Y Lokalo.
"Sebenarnya untuk penginapan pendatang. Tetapi kemudian digunakan Belanda untuk tempat pengasingan. Pada kurun waktu tahun 1948 sampai 1949, Soekarno, Menteri Luar Negeri Agus Salim, Wakil Perdana Menteri M Roem, Menteri Pengajaran Ali Sastroamidjojo ditempatkan di Wisma Ranggam," kata Edi.
Wisma Ranggam berukuran 32x15,6 meter untuk ukuran ruang utama dan ruangan sayap berukuran 8x14 meter. Bangunan bercat kuning krem itu terdiri dari sepuluh ruangan.
Di sudut bangunan utama Wisma Ranggam, sebelah kiri pintu masuk, merupakan ruang tempat tidur Agus Salim yang berukuran 4x6 meter.
Di sebelahnya, berdempetan dinding, terdapat ruangan berukuran lebih kecil, sekitar 5,5x4 meter, yang menjadi kamar Bung Karno. Ada dua pintu di kamar ini, pintu masuk dan satu pintu keluar ke halaman samping.
Ruangan lainnya di sisi depan, pernah menjadi kamar M Roem dan Ali Sastroamidjojo. Ada juga ruang pertemuan dan ruang tamu. Tepat di halaman depan berdiri sebuah tugu setinggi 3 meter.
Kamar Bung Karno terlihat seperti kamar-kamar penginapan sederhana. Apalagi saat ini sudah tidak ada lagi ranjang yang pernah digunakan Bung Karno untuk beristirahat. Hanya ada sebuah koper besi ukuran 1x0,5 meter. Itupun menurut cerita Edi, milik peninggalan saudagar Tionghoa.
"Di tengah-tengah kamar ini ranjang Bung Karno. Kalau bagian luar kamar untuk tempat makan dan shalat," kata Edi.
Tidak terlihat benda-benda bersejarah pada masa itu. Tempelan uang kuno dan tulisan-tulisan tentang Bung Karno di dalam kamar adalah inisiatif Edi yang mengaku memasangnya.
Wisma Ranggam memang terkesan sederhana. Tapi dari sinilah cikal bakal lahirnya sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia, yaitu perjanjian Roem-Royen yang mengatur perdamaian Indonesia dan Belanda. Setelah proses panjang, Belanda dan Pemerintah RI sepakat melakukan gencatan senjata pada 22 Juni 1949 melalui perjanjian Roem-Royen di Jakarta pada 7 Mei 1949.
Belanda menarik kekuatan milternya dari Yogyakarta pada kurun 24-29 Juni 1949. Sekitar sepekan kemudian, 6 Juli 1949, Soekarno kembali dari pengasingannya di Muntok menuju Pangkalpinang, lalu diterbangkan ke Yogyakarta.
Upaya melalui jalur diplomasi, mencapai puncaknya pada Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus sampai 2 November 1949. Pemerintah Belanda akhirnya menandatangani pengakuan kedaulatan Republik Indonesia pada 27 Desember 1949.
Menurut cerita yang diperoleh Edi, selama diasingkan di Wisma Ranggam, Bung Karno sering berjalan-jalan menemui penduduk.
Selain kerap menjumpai masyarakat Muntok yang bersemangat mendukung kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno juga menerima kedatangan Sultan Hamengku Buwono IX, M Roem, dan para pejabat Bijeenkomst Voor Federal Overleg/BFO, badan permusyawaratan federal bentukan Belanda. Bung Karno dan para tokoh tetap berusaha mengatur upaya perjuangan dan pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Selama berada di Muntok, Soekarno juga diketahui pernah membuat surat untuk Panglima Besar Angkatan Perang RI Jenderal Sudirman pada 23 Mei 1949 yang keberadaannya belum diketahui karena sedang bergerilya.
Syudariah (70), warga Pangkalpinang, bercerita pada masa kecil ia pernah diajak ayahnya ikut meramaikan penyambutan kedatangan Presiden Sukarno di Pelabuhan Pangkalbalam, Pangkalpinang. Syudariah cuma ingat, pesawat yang membawa Sukarno bisa mendarat di air.
"Saya belum sekolah tapi dulu orangtua sering cerita, kalau Presiden Sukarno punya anak kira-kira seusia saya yakni Megawati. Bahkan bapak saya sengaja membeli foto keluarga Sukarno bersama istri dan anak-anaknya," kata Syudariah.
Hanya saja, Syudariah tidak mengetahui persis kedatangan Sukarno lewat Pelabuhan Pangkalbalam itu terjadi pada Desember tahun 1948 atau Februari tahun 1949. (day)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/wisma-ranggam-muntok-bangka-barat_20150819_131224.jpg)