Konflik Batas Desa Kotawaringin dan Buyan Kelumbi Bagaikan Bara Api Dalam Sekam

Warga Desa Kotawaringin Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka menyampaikan aspirasi mereka kepada Pemkab Bangka terkait batas wilayah desa mereka.

Konflik Batas Desa Kotawaringin dan Buyan Kelumbi Bagaikan Bara Api Dalam Sekam
Bangkapos.com/Nurhayati
Warga Desa Kotawaringin saat menyampaikan aspirasi mereka terkait batas lahan dengan Desa Buyan Kelumbi di ruang rapat Bina Praja Kantor Bupati Bangka, Sabtu (21/11/2015). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA--Warga Desa Kotawaringin Kecamatan Puding Besar Kabupaten Bangka, Sabtu (22/11/2015) menyampaikan aspirasi mereka kepada Pemkab Bangka terkait batas wilayah desa mereka dengan Desa Buyan Kelumbi Kabupaten Bangka Barat.

Pada pertemuan tersebut Ketua BPD Kotawaringin, Sarkawi langsung memaparkan berbagai persoalan yang terjadi akibat lahan yang sebelumnya masuk wilayah Kotawaringin sekarang dijadikan lahan persawahan oleh Desa Buyan Kelumbi.

"Keluar Permendagri Nomor 3 Tahun 2009 yang kami lihat di peta melenceng, kesepakatan ini diambil seperti apa? Padahal garis lama sudah jelas. Bahkan pada tahun 2004 ada program KKSR yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bangka ada lahan milik warga SPPH-nya sudah dikeluarkan Pemdes Kotawaringin," kata Sarkawi kepada Sekda Bangka H Fery Insani yang memimpin pertemuan dengan Warga Kotawaringin di Ruang Rapat Bina Praja Kantor Bupati Bangka.

"Lokasi KKSR itu sekarang sudah masuk wilayah mereka. Bagaimana keluarnya Permendagri Nomor 3 tahun 2009 tanpa mengindahkan hak-hak kami Desa Kotawaringin. Pada tahun 2013 dijadikan lahan sawah, kemudian tahun 2015 juga diambil. Kami sudah koordinasi Pemdes Kelumbi tapi mereka cuek," kata Sarkawi.

Sarkawi mengatakan lokasi hutan sebelum percetakan sawah yang dilakukan Desa Buyan Kelumbi di daerah resapan air Sungai Peraik digarap jadi lahan sawah sehingga daerah resapan menjadi habis.

"Awal pertama Desa Buyan Kelumbi garap sawah tahun 2013 di daerah serapan air ada sekitar 50 hektar. Hilangnya daerah resapan ini menyebabkan awal Januari 2014 lalu Desa Kotawaringin banjir sampai markir perahu bisa di rumah," ungkap Sarkawi.

Sekarang untuk tahun 2015, daerah serapan air sudah habis digarap semua sehingga dikhawatirkan Desember atau Januari, desa mereka akan banjir kalau daerah serapan habis untuk lahan persawahan Kabupaten Bangka Barat.

Sarkawi mengatakan, pada tahun 2010 mereka sudah melakukan perundingan, tetapi tidak ada kesepakatan.

Begitu juga saat pembahasan batas wilayah yang difasilitasi provinsi pada tahun 2013, namun disayangkan tidak satupun perwakilan Bangka Barat yang datang.

Halaman
12
Penulis: nurhayati
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved