Pilkada Belitung Timur 2015

Adik Ahok Ini Jantan, Orang Langka di Negeri Ini

Incumbent kalah bukanlah cerita baru dalam Pilkada. Konteks masyarakat yang cenderung tak mudah puas, ingin segera merasakan lonjakan

Adik Ahok Ini Jantan, Orang Langka di Negeri Ini
POSBELITUNG/DEDY Q
Dosen FISIP Universitas Bangka Belitung Ibrahim

Pilkada Serentak Beltim: Masyarakat Beltim Ingin Ada Perbedaan

BANGKAPOS.COM, -- DALAM pemahaman saya, masyarakat Belitung Timur tidak sedang mendelegitimasi sosok incumbent, yang dimaksudkan sebagai bentuk penolakan, melainkan sebagai refleksi keinginan masyarakat untuk mencoba sesuatu yang berbeda. Saya kira ini sangat lazim di tengah kultur masyarakat kita yang tidak mudah puas.

Incumbent kalah bukanlah cerita baru dalam Pilkada. Konteks masyarakat yang cenderung tak mudah puas, ingin segera merasakan lonjakan, sampai pada kegalauan atas status quo yang mungkin dirasakan menyebabkan masyarakat Belitung Timur memutuskan untuk memilih kandidat baru.

BACA: Sukses Antar Kakaknya Menang di Beltim, Yusril Ditantang Maju di Pilkada DKI

Saya kira terlalu gegabah jika kita mengatakan bahwa situasi politik di Belitung Timur ditentukan oleh politik perbedaan yang lahir dari basis etnisitas. Ketimbang mendebat soal identitas, yang lebih menarik saya kira adalah pada keinginan masyarakat untuk merasakan sebuah pemimpin baru yang berbeda dengan sebelumnya.

Incumbent secara umum memang mudah ditakar kapasitas dan kinerjanya, sementara mereka yang baru relatif memiliki kesempatan dan asa yang lebih prediktif.

Nanti, boleh jadi akan ada kerinduan untuk mengimpikan kembali kepemimpinan yang lama, mirip yang sekarang terjadi di Bangka Barat dan Bangka Selatan. Tak soal, cara meyakinkan publik melalui visi misi saya kira adalah faktor penentu didalamnya.

BACA: Hanya Babar yang Belum Ditentukan Pemenangnya di Penghitungan Cepat Pilkada Babel

Apakah peta politik bergeser di Belitung Timur? Tentu dampaknya ada. Ini adalah era kemenangan yang seakan kembali menjadi milik Partai Bulan Bintang.

Partai ini meneguhkan posisi politisnya atas kebijakan pembangunan daerah. Di sini, partai ini akan diuji justru pada kemampuan kandidat yang mereka usung untuk membuktikan. Ini adalah momentum yang tepat untuk membuktikan, sebaliknya akan muncul stigma berlawanan jika yang terjadi adalah kontraproduktif.

Apapun itu, saya apresiasi setinggi-tingginya atas kejantanan Basuri dalam menyambut kekalahannya. Ini adalah barang mahal dan langka di negeri ini.

Mengakui kalah dan kemudian menyatakan selamat adalah tradisi transisi kepemimpinan yang patut dicontoh oleh daerah dan pemimpin lainnya. Selamat untuk semua kandidat yang merayakan kemenangan dan kekalahan dengan cara bijak dan bermartabat. (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved