Pengangkatan Situs Arkeologi Bawah Laut Merupakan Hal Yang Sulit

Abriandika Pratama yang juga melakukan kegiatan menyelam situs bawah laut dan ujicoba robotic underwater di Hatshusima Island-Jepang,

Pengangkatan Situs Arkeologi Bawah Laut Merupakan Hal Yang Sulit
IST
Putra daerah provinsi Babel yang tengah menempuh pendidikan di Tokyo University Of Marine Science And Technology di Tokyo Jepang, Abriandika Pratama saat melakukan kegiatan menyelam situs bawah laut dan ujicoba robotic underwater di Hatshusima Island-Jepang, bersama team dari TUMSAT (Tokyo University of Marine Science And Technology) dan ARIUA (Asian Riset Institute Underwater Archaeology).?

Laporan Wartawan Bangka Pos, Ajie Gusti Prabowo

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Peneliti sekaligus putra daerah provinsi Babel yang tengah menempuh pendidikan di Tokyo University Of Marine Science And Technology di Tokyo Jepang menjelaskan, bahwa kegiatan pengangkatan dan penyelaman bawah laut untuk situs arkeologi tergolong sulit.

Abriandika Pratama yang juga melakukan kegiatan menyelam situs bawah laut dan ujicoba robotic underwater di Hatshusima Island-Jepang, bersama team dari TUMSAT (Tokyo University of Marine Science And Technology) dan ARIUA (Asian Riset Institute Underwater Archaeology) menuturkan, bahwa‎ banyak kendala terutama harus mahirnya penyelam dalam kegiatan menyelam.

Selain itu, penyelam harus menguasai tekhnik menyelam dan pengangkatan objek yang baik, menguasai perubahan cuaca, arus laut, gelombang, dan juga masalah serangan bawah laut dari hewan-hewan predator seperti ikan hiu apabila bekerja di bawah laut dan buaya jika bekerja diperairan sungai dan muara.

"Belum lagi biaya yang dikeluarkan relatif besar dari segi persiapan alat, transportasi, hingga gaji para professional dengan tingkat resiko yang besar. Jika tidak sesuai prosedur bisa-bisa penyelamnya tewas dibawah laut," tegasnya.

Ia menambahkan, Provinsi Babel memiliki‎ potensi yang besar dari segi Maritim atau sebagai Maritime Cultural Resources karena banyak sumber cagar budaya baik di pesisir pantai maupun dibawah laut.

"Ada tiga golongan besar yang masing-masing ditangani oleh para ahli dengan kepakaran tertentu yaitu ‎benda arkeologis yang berada di dasar laut maupun di pesisir, dan benda-benda tersebut dilindungi perundang-undangan tentang cagar budaya tentunya. Lalu‎ Artifact atau benda buatan manusia yang bergerak seperti kapal, peralatan kapal, peralatan menangkap ikan, dan benda muatan lain termasuk prasasti dan benda-benda bergambar, feature atau benda buatan manusia yang tidak bergerak seperti pelabuhan, dermaga, mercu suar, gudang, benteng, dan kanal dan ecofact atau benda alam yang memiliki relevasi dengan kehidupan manusia seperti hasil bumi muatan kapal dan bentuk-bentuk permukaan bumi yang digunakan manusia sebagai acuan yang bernilai sejarah tetapi belum dilindungi oleh perundang-undangan," katanya.

Dan menurutnya yang terakhir adalah‎ masyarakat yang hingga kini masih hidup di laut dan di pantai, yang biasa dipelajari oleh para arkeolog.

"Contohnya jika di Indonesia salah satunya mengenai Suku Seka yang ada di Provinsi Babel, tepatnya sekarang di Kedimpal Bangka Tengah, Pulau Pongok di Basel, Kampung Nelayan di Tanjung Pandan, dan Manggar," beber Abriandika.(*)

Penulis: tidakada012
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved