Breaking News:

Kisah Sukses Pembuat Kue, Berawal dari Satu Kuali Kini Winawati Punya Dua Pabrik

Kerja keras berbuah hasil. Itulah yang dialami Winawati (57), seorang pengusaha pengrajin kue keranjang dan dodol khas Tangerang.

Editor: fitriadi
BCA
Winawati (57), pengusaha pengrajin kue keranjang dan dodol khas Tangerang. 

BANGKAPOS.COM - Kerja keras berbuah hasil. Itulah yang dialami Winawati (57), seorang pengusaha pengrajin kue keranjang dan dodol khas Tangerang.

Lahir dari keluarga pengusaha, Winawati sempat mengalami kemunduran dalam ber bisnis. Apalagi ia sempat tertimpa musibah kerampokan sehingga barang-barang berharga di rumahnya habis.

Ia pun harus meminjam uang dan menjual mobil suaminya untuk mengumpulkan kembali modal agar bisa memulihkan bisnisnya yang jatuh.

Beruntung ada seorang ibu haji yang baik hati yang mau membantunya kala itu, sehingga ia bisa memulai kembali bisnisnya.

“Dulu ada seorang tetangga, namanya Ibu Haji Sahani. Beliau yang meminjamkan saya uang untuk modal saya ber bisnis,” ungkap Winawati dengan senyuman, mengingat kebaikan hati si ibu Haji tersebut.

Awalnya Ci Iin, panggilan akrab Winawati, memulai kembali bisnisnya dengan berjualan minyak tanah.

Winawati (57) melihat pekerjanya membuat kue keranjang dan dodol khas Tangerang. (BCA)

Namun, selang beberapa waktu Ci Iin berpindah haluan dengan memulai ber bisnis sebagai pengrajin kue.

Hal ini didasari oleh sejarah keluarga sang suami, Lauw Kim Tay yang memang pengrajin kue dodol dan kue keranjang.

Dimulai dari sang Kakek yang memulai usaha sebagai pengrajin dodol pada tahun 1950, kini Lauw Kim Tay sebagai generasi ketiga melanjutkan usaha tersebut.

Namun, Lauw Kim Tay (68) sudah tidak muda lagi dan mulai sakit-sakitan, dan usaha keluarga tersebut dikelola oleh sang Istri Winawati bersama putra keempat mereka, satu-satunya anak lelaki dari lima bersaudara putra putri Winawati dan Lauw Kim Tay.

Nama marga “Lauw” hingga kini masih mereka gunakan sebagai nama dagang, dan hasil kerajinan kue tersebut sudah dikenal dengan nama “Nyonya Lauw”.

Menurut Ci Iin, pada awalnya mereka hanya menghasilkan kue-kue tersebut setahun sekali, yaitu pada Hari Raya Imlek, dan hanya menggunakan satu kuali.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved