Posko UBB-Timah Dapat 'Darah Segar' dari Relawan Depok

Mahasiswa UBB tetap berjaga di Posko UBB-PT Timah meski pengungsi sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing.

Posko UBB-Timah Dapat 'Darah Segar' dari Relawan Depok
Istimewa
Mahasiswa UBB tetap berjaga di posko meski seluruh korban banjir di Posko UBB-PT Timah sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing, Sabtu (13/02/2016) siang.

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dodi Hendriyanto

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Meski seluruh korban banjir di Posko UBB-PT Timah sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing, namun hingga Sabtu (13/02/2016) petang posko belum ditutup. Belasan mahasiswa UBB tetap berjaga di posko.

“Memang ada rencana dari UBB dan PT Timah menutup posko ini pada hari Minggu esok. Tapi itu pun tergantung kondisi. Kalau hujan lebat dan bisa menimbulkan banjir lagi, ya sudah tentu posko kami ini tetap buka,” tukas Randi Hartadi (21), Ketua Komunitas Mahasiswa Pencinta Alam-Sosial (Kompas) UBB, Sabtu (13/2/2016).

Randi menjelaskan mahasiswa UBB tetap siaga dan setia dengan tugas kemanusiaan membantu apa saja untuk korban banjir di Pangkalpinang dan sekitarnya.

“Kami mahasiswa UBB, yang didukung para dosen dan kawan-kawan dari seluruh Unit Kegiatan Mahasiswa UBB siaga dan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk membantu korban banjir, baik di Pangkalpinang dan sejumlah daerah di Bangka,” ujar mahasiswa Teknik Sipil semester VIII ini.

Dukungan kepada segenap aktivitas Posko UBB-PT Timah tergolong tinggi. Selain kucuran bantuan berupa makanan, minuman dan pakaian berdatangan silih berganti, posko yang dibuka Selasa kemarin itu pun dapat ‘energi’ baru: kedatangan relawan dari Sekolah Relawan Depok, Jakarta.

“Ya, seorang relawan dari Sekolah Relawan Jakarta sejak kemarin sudah bergabung dengan kami. Ia bernama Fajar, dan akan ikut bersama men-‘drop’ bantuan ke sejumlah lokasi banjir di Bangka,” tukas Jailani, mahasiswa jurusan sosiologi UBB.

Sabtu petang, ruang yang semula ditempati 65 korban banjir -- kebanyakan anak-anak Panti Asuhan Muhamadiyah Pangkalpinang -- telah kosong. Namun karpet warna merah sebagai alas tidur mereka masih terhampar rapi dan bersih.

Dapur umum terletak di belakang posko sebelumnya selalu ‘ngepul’ karena menyediakan 200 bungkus makanan dan air minum setiap kali makan, sudah tutup. Tak terdengar lagi canda isteri para dosen dan staf UBB. Semua sunyi dan sepi.

“Sebelum resmi ditutup kami tidak akan beranjak dari posko. Selain memang kewajiban sosial kami, perlu diketahui masih ada saja aliran bantuan dari warga masyarakat,” terang Randy.

Halaman
12
Penulis: Dody
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved