Kalijodo Bermula dari Pencarian Gundik

Tempat yang dijadikan pertemuan pencarian jodoh itulah yang kemudian dinamakan Kalijodo.

Warta Kota/Junianto Hamonangan
Alat berat membongkar sejumlah bangunan di Kawasan Kalijodo, Senin (29/2/2016). 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Batavia sekitar tahun 1600-an di bawah kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) ketika itu dipimpin Jan Pieterszoon Coen, mayoritas penduduknya merupakan etnis Tionghoa.

Masyarakat berlatar belakang etnis Tionghoa ini merupakan orang-orang yang melarikan diri dari Mansuria yang ketika itu sedang mengalami perang.

Mereka melarikan diri ke Batavia tanpa membawa istri.

Di Batavia, mereka mencari gundik atau pengganti istri.

Dalam proses pencarian gundik itu, etnis Tionghoa itu kerap bertemu di kawasan bantaran sungai yang kini bernama Sungai Angke.

Tempat yang dijadikan pertemuan pencarian jodoh itulah yang kemudian dinamakan Kalijodo.

Para calon gundik ini merupakan perempuan lokal.

Biasanya para gadis pribumi menarik pria etnis Tionghoa dengan menyanyi lagu-lagu klasik Tionghoa di atas perahu yang tertambat di pinggir kali.

Tahun 1930 banyak pemuda lajang yang datang ke tempat itu untuk mencari pasangan.

Ada juga muda-mudi yang datang di kawasan itu untuk menikmati sungai di kawasan Kalijodo.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved