Breaking News

HRD PT MSP Akui Ratusan Karyawan MSP Tertunda Gajinya

Saya cuma menyampaikan bahwa ini intern kami, jadi kami memang ada keterlambatan pembayaran gaji

HRD PT MSP Akui Ratusan Karyawan MSP Tertunda Gajinya
Bangkapos.com/Fery Laskari
Pekerja tambang pasir timah PT MSP menggelar demo di smelter, Jelitik, Sungailiat, Rabu (23/3/2016). Tampak pekerja tambang menumpang truk menuju smelter perusahaan itu. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Ini penjelasan Amun (50), Wakil HRD PT Mitra Stania Prima (MSP), perusahaan tambang dan peleburan timah di Bangka.

Penjelasan itu diutarakan Amun, terkait demo damai para pekerja di kantor smelter perusahaan di Jeliti Sungailiat, Rabu (23/3) siang tadi.

"Saya cuma menyampaikan bahwa ini intern kami, jadi kami memang ada keterlambatan pembayaran gaji (karyawan). Yang jelas dari pimpinan kami akan berupaya untuk menyelesaikan permasalahan ini. Insyah Allah dibayar, cuma dari Februari (2016) saja (gaji belum dibayar), mungkin Maret (2016) ini kita akan selesaikan (langsung) dua bulan," katanya.

Yang jelas Amun mengakui, PT MSP sedang ada masalah keuangan sehingga pembayaran gaji karyawan atau pekerja tertunda. "Memang kami dari bulan Februari ini, kami kesulitan finansial, sehingga kewajiban-kewajiban yang ahrus dibayar, agak terlambat," katanya.

Saat ditanya apa penyebab perusahaan ini mengalami kesulitan finansial? Amun tak menjawab pasti karena itu kebijakan pimpinan. "Nggak tahulah, itu pimpinan kami yang tahu, kami cuma pelaksana disini (Di PT MSP). Yang jelas rencananya, besok pagi (hari ini -red) Direksi kami akan menyampaikan kepada yang bersangkutan (demonstaran)," katanya.

Amun mengakui, tak hanya pekerja di bagian tambang yang belum mendapatkan hak. Karyawan di pabrik peleburan (smelter) dan beberapa bagian lainnya di perusahaan yang sama, mengalami nasib serupa. "Semua karyawan yang belum dibayar,...kami aja belum. Kami ada sekitar 288 orang karyawan, semuanya (ditambang dan di smelter)," katanya.

Di akhir penjelasannya, Amun kembali meminta sejumlah wartawan mengerti, dan segera keluar dari areal. Smelter dengan alasan, persoalan itu akan mereka bicarakan secara internal dengan para pendemo. Wartawan bersedia keluar dari lingkungan smelter, namun tetap siaga menunggu di luar pagar (tak jauh dari pos satpam) smelter, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi gejolak anarkis dari para pendemo tadi.

"Saya berharap bapak bapak (wartawan) mengertilah...saya juga berharap mereka (pendemo) kembali ke tempat masing-masing, ..kebijakan perusahaan, karyawan standby saja untuk sementara, tapi kita tetap mempertimbanka lah. Besok pagi (hari ini -red), Insyah Allah mudah-mudahan direksi kami akan menjelaskannya lebih lanjut," kata Amun.

Sementara itu, sekitar satu jam berlalu, pintu gerbang pos satpam dibuka, dan para pendemo, pekerja tambang keluar dari halaman dalam smelter, lalu naik ke sebuah bak mobil truk. Sementara pekerja lainnya menggunakan sepeda motor meninggalkan kantor smelter ini.

Para pekerja dipastikan menggelar demo protes tanpa keributan, dan tanpa anarkis. Demonstarasi mereka sebatas aksi mendatangi kantor perusahaan (smelter), sebagai bentuk protes gaji tak dibayar. Sementara itu, saat akan meninggalkan kantor smelter, para pekerja terlihat tak puas karena aspirasi yang mereka lampiaskan belum terpenuhi. "Dak apelah hasil' e..!" teriak seorang pekerja dari atas bak truk pengangkut mereka meninggalkan lokasi aksi protes tadi.

Penulis: ferylaskari
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved