Banyak Orang yang Ngaku Pakar Ekonomi, Tapi Salah Kaprah Soal MEA

Dr Eugenia Mardanugraha menilai, banyak pembicara yang mengupas peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Banyak Orang yang Ngaku Pakar Ekonomi, Tapi Salah Kaprah Soal MEA
IST
Dr Eugenia Mardanugraha

Laporan wartawan bangka pos, dodi

MERAWANG, BANGKAPOS.COM -- Peneliti dari Universitas Indonesia (UI) Dr Eugenia Mardanugraha menilai, banyak pembicara yang mengupas peran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) kerap salah kaprah, lantaran mereka lebih menekankan aspek persaingan antarpelaku usaha di rantau ini.

Padahal MEA, sebagai salah satu dari pilar Komunitas ASEAN, itu sendiri dibentuk untuk mewujudkan kawasan, antara lain memiliki daya saing tinggi, menjadi pasar tunggal dan basis produksi, kawasan dengan pembangunan ekonomi berkeadilan, dan terintegrasi penuh dengan ekonomi global.

“Mereka itu tidak mengacu pada ‘Blue Print’ (cetak biru) MEA. Kerap kita dengar dalam seminar tentang peran UKM, terutama yang digelar di Jakarta: bagaimana cara kita mengalahkan UKM di Malaysia, dan bagaimana cara kita untuk mengalahkan produk-produk Thailand, ” ujar Eugenia Mardanugraha dalam seminar ‘Pemberdayaan UMKM di Provinsi Bangka Belitung dalam Rangka Implementasi MEA”, yang dimoderatori Ir Eddy Jajang Jaya Atmaja MM MBA PhD (Cand), beberapa waktu lalu.

Menurut Eugenia, untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi di 10 negara ASEAN telah disepakati skema aliran bebas (free flow) untuk barang (goods), jasa (service), investasi (investment), modal (capital) dan tenaga kerja berkeahlian (skilfull labour).

“Itu artinya, di sepuluh negara anggota ASEAN, investasi (yang ditanam) bisa di mana saja. Menjual (produk) ke mana saja, dan membeli di sama saja, serta tenaga kerja (di kawasan ini) bisa siapa saja. Bahwa ada pembicara mengatakan: UKM di sini perlu mengalahkan UKM di negara ASEAN lainnya, itu salah konsep. Tidak mengacu Cetak Biru MEA!,” ujar peneliti bidang finansial inklusi dan UMKM di Fakutas Ekonomi UI ini.

Pemerintah yang merupakan regulator dari UKM di semua negara ASEAN, lanjut Eugenia telah membuat terobosan untuk mewujudkan pasar tunggal dan basis produksi di kawasan ini. Mereka dua kali dalam satu tahun bertemu khusus untuk mendiskusikan regulasi apa yang perlu diluncurkan.

“Regulator itu menciptakan apa yang dikenal sebagai ‘born ASEAN’ dan ‘born ASEAN sme’ (smallholder enterprise, UKM). Yaitu sebuah langkah untuk menciptakan produk dan kualitas dengan harga yang sama, serta diproduksi serentak di bawah manajemen seragam di seluruh negara ASEAN,” kata dosen ekonomi dan fiskal UI ini.

Untuk ‘born ASEAN’, Eugenia mengemukakan contoh produksi busana, baik desain maupun lokasi pembuatan, semuanya di Indonesia. Namun komponen busana itu berupa benang (tekstil) berasal dari Thailand. Sedangkan penjahitannya dilakukan di Vietnam, sementara modal usaha ini berasal dari UKM Singapura.

“Praktik ‘born ASEAN sme’ bisa dilakukan negara mana saja di ASEAN ini. UKM di Bangka Belitung misalnya, bisa menghasilkan produk dengan kualitas dan harga yang sama, dengan ‘born ASEAN sme’ di Malaysia,” ulas Eugenia.

Halaman
12
Penulis: Dody
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved