Saluran Sperma Pria-pria Ini Dipotong Agar Tak Bisa Menghamili Lagi

Empat pria di Kabupaten Hulu Sungai Tengah rela memutus saluran spermanya sehingga tidak bisa lagi menghamili alias mandul.

Saluran Sperma Pria-pria Ini Dipotong Agar Tak Bisa Menghamili Lagi
banjarmasinpost.co.id/hanani
Seorang peserta KB pria melakukan vasektomi di Desa Klas Kecamataan Batangalai Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. 

BANGKAPOS.COM, BARABAI - Bagi lelaki pada umumnya, menjadi mandul bisa dianggap aib. Namun tidak bagi empat pria di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.

Mereka rela melakukan vasektomi, yaitu memutus saluran spermanya sehingga tidak bisa lagi menghamili alias mandul.

Satu di antaranya Syabrani (46). Warga Barabai itu mengaku sudah cukup memiliki tiga orang anak. Dia pun mendaftarkan diri sebagai peserta KB khusus pria tersebut.

Saat ditemui BPost di ruang operasi mobil pelayanan BKKBN Kalsel, Syabrani mengatakan mengetahui program tersebut dari petugas puskesmas.

“Saya mau saja, karena sudah punya tiga anak, dan usia juga sudah di atas 46 tahun,”kata pria yang sehari-hari bekerja sebagai penarik becak tersebut.

Metode Operasi Pria (MOP) Vasektomi kemarin dilakukan di mobil pelayanan oleh dua dokter, yaitu Mahendara Prakoso dan Lasma Uli, dokter di BKKBN Kalsel.

Menurut kedua dokter tersebut, kini makin banyak pria yang bersedia melakukan MOP Vasektomi, karena dari sisi tindakan lebih mudah dan aman.

“Kalau istrinya yang di-Tubektomi, lebih sulit tindakannya. Sebab harus dibius total, dan dilakukan di rumah sakit oleh dokter spesialis. Kalau vasektomi, tidak harus di rumah sakit. Di puskesmas pun bisa, dan tindakannya hanya sekitar 15 menit,” jelas Mahendra.

Sementara itu, petugas lapangan KB Desa Kias, Kecamatan Batangalai Selatan, HST, Netty Erina mengakui, tidak mudah mengubah pola pikir, bahwa ber-KB (ikut program keluarga berencana) dengan metode kontrasepsi jangka panjang itu (MKJP) itu tak hanya dilakukan oleh perempuan, tetapi bisa juga laki-laki.

Selama ini antarsuami istri lebih banyak dilakukan perempuan. Padahal, program BKKBN pusat, peran serta laki-lagi juga diharapkan. Apalagi, perempuan disibukkan mengurus anak dan rumah pekerjaan rumah tangga.

Diakui dia, di lingkungan Puskesmas Birayang, kebanyakan alat kontrasepsi jangka panjang diterapkan pada perempuan.

Seperti pemasangan implant dan spiral. Untuk tingkat penggunaan MJOP sendiri masih rendah, karena masih banyak yang memilih meminum pil, yang sifatnya jangka pendek.

“Secara perlahan kami mengajak mereka beralih ke inplant dan spiral. Termasuk MOP,”kata dia.

Kepala Biro Kepegawaian BKKBN Pusat, saat pencanangan Desa Kias sebagai Kampung Keluarga Berencana, mengatakan, program KB masih relevan dilaksanakan di negeri ini, karena hingga 2016 masih terjadi ledakan jumlah penduduk.

“KB salah satu cara mengendalikan jumlah penduduk. Tujuannya bukan untuk melarang kehamilan, tapi membatasi jarak kelahiran, agar menghasilkan anak-anak yang SDM-nya lebih berkualitas. Juga agar mencapai kesejateraan keluarga,” jelasnya

Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved