Breaking News:

Susur Sungai Mendo Bak Menapak Tilas Ekspedisi Maharaja Sriwijaya Dapunta Hyang

Terbayang ribuan balatentara maharaja Sriwijaya Dapunta Hyang dengan kapal-kapalnya memasuki muara sungai Mendo

Penulis: Iwan Satriawan | Editor: edwardi
bangkapos.com/Iwan S
Peserta ekspedisi Susur Sungai Mendo melihat gundukan tanah tempat ditemukannya prasasti persumpahan dan ancaman Maharaja Sriwijaya Dapunta Hyang di tengah kebun karet warga di Desa Kota Kapur. 

Laporan wartawan Bangka Pos, Iwan Satriawan

TRIBUNEWS, BANGKA -- Imajinasi seolah melayang ke masa ratusan tahun silam saat duduk diatas perahu motor yang melaju di tengah Sungai Mendo‎ menuju Muara Sungai Mendo Kecamatan Mendo Barat Kabupaten Bangka akhir pekan lalu.

Terbayang ribuan balatentara maharaja Sriwijaya Dapunta Hyang dengan kapal-kapalnya memasuki muara sungai Mendo dalam rangka persiapan menaklukkan tanah Jawa.

Tanaman bakau berukuran raksasa yang tumbuh dengan lebat di kiri kanan tepian sungai hingga ke muara sungai seolah-olah menjadi saksi kebesaran kerajaan besar yang menguasai kawasan Asia Tenggara tersebut.

‎Begitu menjejakkan kaki di dermaga Desa Kota Kapur usai menempuh perjalanan dua jam lebih menyusuri sungai Mendo dari dermaga Desa Mendo, terbayang ramainya aktifitas pelayaran kapal-kapal didermaga itu pada masa jaya kerajaan Sriwijaya.

Suasana berubah ‎ menjadi bernuansa mistis saat tiba di gundukan tanah tempat penemuan Prasasti Kota Kapur di tengah kebun karet milik tokoh masyarakat setempat H Mahadil.

Terbayang ancaman dan sumpah di goreskan di prasasti tersebut oleh Maharaja Sriwijaya Dapunta Hyang.

"Engkau, seluruh dewa dewi, yang melindungi (kerajaan) Sriwijaya.

Juga Engkau, Dewa Sungai, dan seluruh roh yang menjadi dasar dari mantra kutukan ini,"

"Beberapa rakyat di dalam wilayah kerajaanku telah memberontak, (bersekutu dengan) para pemberontak, berbicara dengan para pemberontak, mendengarkan kata-kata para pemberontak, mengetahui para pemberontak, (yang tidak patuh dan) tunduk dan setia padaku dan pada mereka yang telah kutunjuk sebagai datu, (maka orang-orang seperti itu) dibinasakanlah (dengan kutukan‎,"

"Dan petua kerajaan Sriwijaya diperintahkan untuk menghancurkan mereka, dan mereka akan dihukum bersama suku dan keluarga mereka. Juga (seluruh) orang-orang berkelakuan jahat, (seperti mereka yang) meneluh orang lain, membuat orang sakit, membuat orang menjadi gila, menggunakan mantra-mantra, meracuni orang lain dengan upas dan tuba, dengan racun yang dibuat dari tumbuhan dan segala jenis tanaman merambat, meramu minyak-minyakan, mengguna-gunai orang lain dengan mantra-mantra, dan seterusnya, maka bagi mereka tertimpakanlah kesialan, digolongkan ke dalam dosa-dosa orang yang berperilaku amat buruk,"

"Namun jika mereka tunduk dan setia padaku dan pada mereka yang telah kutunjuk sebagai datu, maka dilimpahkanlah karunia pada usaha mereka juga pada suku dan keluarga mereka. Dan dikaruniakanlah keberhasilan, kemakmuran, kesehatan, keamanan dan kelebihan pada seluruh negeri mereka"

Prasasti persumpahan dan ancaman ini dibuat pada tahun Saka berlalu 608 hari pertama paroterang bulan Waisaka, (28 Februari 686), tatkala kutukan dan sumpah ini dipahat, ketika tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Tanah Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya.

Situs Kota Kapur sendiri berada disebuah dataran yang menghadap langsung ke selat Bangka. Situs itu dikelilingi oleh hutan rawa pantai di sebelah barat, utara, dan timurnya.

Pada situs Kota Kapur terdapat “benteng tanah” sepanjang kurang lebih satu setengah kilometer. Stratigrafi/pelapisan benteng tanah ini tebalnya lebih dari sepuluh meter dengan tinggi dua setengah meter. Di bawah tanah terdapat berbagai benda arkeologis, seperti sisa struktur bangunan candi, keramik Cina abad 9 – 12, patung Wisnu ber-kuluk (mitred Visnu) abad 5 – 7 bernilai sejarah yang belum terkuak.

Di lokasi ini Prasasti Kota Kapur ditemukan oleh J. K. van der Meulen, seorang pegawai pamong praja Sungai Selan, pada bulan Desember 1892.

Penemuan ini mengilhami arkeolog dunia, George Coedes, untuk “menemukan” Sriwijaya. Selama ini perhatian orang terhadap prasasti Kota Kapur hanya dalam rangka pengungkapan mistri Sriwijaya saja. Belakangan diketahui bahwa di lokasi ini diduga pernah ada kerajaan Mo-ho-hsin.

Prasasti Kota Kapur berukuran tinggi 1,77 meter itu dengan tulisan Wenggi, terdiri dari 10 baris berisi 240 kata Melayu Kuno. Prof.Hendrik Kern menterjemah dan membahas prasasti itu pada tahun 1913.

Ali dari dinas pariwisata Kabupaten Bangka mengungkapkan , ada reruntuhan Candi yang ditemukan diwilayah Desa Kota Kapur.

Desa yang sudah ada sejak zaman kerajaan Sriwijaya tersebut berbatasan dengan rawa- rawa dan terdapat dua benteng dari tanah.

"Disini dulunya merupakan jalur perdagangan yang ramai sejak Abad ke 1 Masehi," ungkap Ali dihadapan 12 wisatawan dari bangka dan puluhan peserta tim Susur Sungai Mendo, Sabtu (16/4) lalu.

Ia menjelaskan maharaja Sriwijaya beserta balatentaranya datang ke pulau Bangka dalam rangka menyerang ke jawa.

" Disini istilahnya dijadikan basis," ungkap Ali.

Menurutnya selain ditemukan sejumlah benda prasejarah di seperti Prasati kota Kapur, arca-arca hingga perhiasan emas dan reruntuhan candi, di desa tersenut pada tahun 2015 ditemukan masyarakat batu tulis kecil yang ada tulisan.

"Tulisan tersebut saat ini sedang diteliti arkeolog," jelas Ali.

‎Sementara H Mahadil tokoh masyarakat Desa kota Kapur yang kini memiliki kebun karet di Situs Kota Kapur mengungkapkan berdasrkan peta lama tanhun 1931 posisi Desa Kota Kapur bukan seperti saat ini tetapi berada diatas jauh dari dermaga Kota Kapur maupun situs Kota Kapur.

"Kampung ini pindah ke bawah karena alasan kebutuhan air bersih. Kampung kami sendiri berada diareal 135 hektar di kelilingi benteng. Disini dulunya selain tempat perbaikan kapal, dulunya untuk mengambil air bersih kapal-kapal yang lewat‎ di selat Bangka," jelas M Mahadil.

Ekspedisi susur Sungai Mendo sekaligus ekspedisi situs Kota Kapur yang digagas tokoh Babel Datuk Emron Pangkapi sendiri merupakan terobosan baru untuk pariwisata Bangka Belitung.

Emron mengharapkan Susur sungai Mendo bakal menjado destinasi wisata yang menjanjikan melengkapi wisata pantai dan kuliner yang sudah duluan terkenal di Pulau Bangka.

Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved