Minggu, 10 Mei 2026

Arisan Online Merebak, Istri Berhutang Ratusan Juta Rupiah

Para korban yang ikut arisan online di media sosial ini jika sudah terjerat sulit untuk keluar karena terjerat utang yang tidak jelas.

Tayang:
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi Rupiah 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Masyarakat harus lebih waspada terhadap investasi atau arisan bodong yang marak tersebar di media sosial.

Saat ini sudah banyak masyarakat terutama para ibu rumah tangga (IRT)yang terjerat arisan online.

Para korban yang ikut arisan online di media sosial ini jika sudah terjerat sulit untuk keluar karena terjerat utang yang tidak jelas.

PS, warga Sungailiat yang menjadi korban arisan online mengaku dia terjerat arisan ini sejak dua bulan pada Februari 2016 lalu. Awalnya mau berinvestasi karena diajak oleh teman-temannya di media sosial.

"Awalnya ade duit sedikit inves dulu, ade kawan-kawan yang ngajak ikut arisan online. Masuk ke forumnya di Arisan Babel. Kata kawan-kawan untungnya lumayan. Masuk lah aku ke arisan online," ungkap PS yang masuk ke arisan online seizin suaminya kepada bangkapos.com.

Dia ikut arisan mingguan, bulanan dan arisan duet get, awalnya uang arisan itu masih bisa dibayarnya tetapi karena banyak member masuk ke arisan tersebut untuk menutupi arisan itu dia terpaksa ikut arisan lain, sehingga utang untuk membayar arisan menumpuk.

PS mengikuti arisan duit dengan Judul arisan "Get 3 juta per 2 minggu". Disitu owner atau bandar menawarkan seat kepada member - membernya. Satu seat bisa dibuka 2 orang yakni dengan sebutan No.1 dan No. 2. Disini nomor 1 sebagai peserta mendapatkan tarikan pertama dan No. 2 wajib membayar lebih dulu. Tarif yang diberlakukan per peserta tidak sama besarnya.

No. 1 harus membayar Rp.2 juta dan peserta No dua hanya membayar Rp 1 juta. Pada awal penarikan peserta nomor dua yang disebut sebagai pemodal memberikan uang sebesar Rp 1 juta kepada owner. Uang tersebut akan dicairkan owner kepada peserta no.1 dengan sebesar Rp.900 ribu setelah dipotong biaya administrasi Rp.100.000 oleh owner.

Dalam waktu dua minggu, peserta No 1 harus membayar Rp 2 juta kepada owner dan owner akan mencairkan uang Rp 1,9 juta kepada peserta no 2 dengan potongan administrasi Rp.100.000.

Diakui PS dalam arisan ini, peserta no 1 sudah dirugikan hanya saja mendapat tarikan diawal. Sedangkan peserta No 2 akan diuntungkan dengan pengembalian modal dan hasil investasi yang tidak sedikit.

Sementara pihak owner pun mendapatkan keuntungan dari administrari yang ditarik bisa dari nominal arisan atau disetorkan diawal.

"Seat ditentukan Owner atau bandar. Berapa besarannya setoran No.1 dan No.2 dan biaya administrasi semua ditentukan owner. Tidak tahu dari mana mereka mendapatkan perhitungannya," kata PS.

Dia terpaksa harus ikut arisan baru untuk menutup setoran ke arisan-arisan sebelumnya.

"Orang senang karena saya on time, isilah nomor satu untuk membayar besok pastilah ngegap lagi arisan bayar arisan yang lainnya. Padahal duit ariasannya dak pernah diterima. Misalnya japo (jatuh tempo) Rp 2 juta tidak bisa bayar buka kloter arisan lagi ku ambil satu set dapat Rp 900.00 yang Rp 2 juta ku tinggal transfer tapi gak pernah terima duit karena nyetor lewat bandar atau onwer. Lah masuk arisan ni susah keluernya kayak lingkaran setan," sesal PS didampingi suaminya.

Diakuinya mulai tanggal 16 April lalu tidak bisa membayar arisan lagi. Namun pihak bandar dan member arisan yang lain marah, mereka tidak mau membayar. Kemudian dia minta bertemu dengan bandar dan member arisan. Saat pertemuan tersebut dia harus membayar total arisan ratusan juta.

"Ku ni dak nek agik nek diapa pun dilapor polisi terserah, daripada ku mati kelak lebih baik ku mati sekarang. Ku bilang kelak yuk ku bayar ku jaminan modal yang ku dapat tetapi mereka dak mau harus bayar arisan," ungkap ibu empat anak ini.

Kapolres Bangka, AKBP Sekar Maulana, prihatin maraknya arisan online yang menjebak para ibu rumah tangga.

Dia mengatakan, informasi mengenai arisan online ini bisa menjadi bahan penyelidikan bagi pihak kepolisian.

"Saya terima kasih atas informasi yang kami terima. Ini bisa menjadi bahan penyelidikan kami terkait ada atau tidak adanya unsur pidana," kata Sekar Maulana.

Ia mengingatkan kepada masyarakat bahwa ditengah-tengah perekonomian melemah ini, ada oknum-oknum yang sengaja mencari keuntungan seharusnya jangan memcari mencari keuntungan dengan cara-cara tidak benar bahkan secara logika tidak logis.

"Saya imbau kepada masyarakat ditengah kondisi perekonomian yang masih kurang baik ini. Seharusnya tidak ditambahkan dengan mencari keuntungan dengan cara - cara secara logika saja itu tidak logis. Itu wajib diwaspadai.

Karena bisa berakibat kepada yang bersangkutan sendiri. Keinginan ingin banyak keuntungan tanpa melakukan apapun mengharapkan hasil yang banyak. Menganggap yang bisa bekerja. Nah, itu kita bisa waspadai," pesan Sekar Maulana.

Belasan owner arisan online yang juga termasuk member arisan online, mengelar konfrensi pers dengan para wartawan di Sungailiat untuk mengklarifikasi pemberitaan arisan online yang mereka selenggarakan.

Para owner dan member arisan online tersebut membantah mereka melakukan pemaksaan maupun pengancaman terhadap member arisan online yang mau keluar dari keanggotaan arisan tersebut karena tidak sanggup membayar arisan yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta.

Persoalan arisan online yang dibentuk dalam sebuah forum dengan anggota sebanyak 2000 peserta dengan peserta aktif sebanyak 200an orang sejak enam bulan yang lalu.

"Untuk arisan online kita main atas kesepakatan antara pihak member arisan. Awalnya kita itu kumpul teman-teman supaya saling kenal. Kita juga tidak pernah menawarkan misalnya mau main. Kita tinggal posting arisan kita buat mereka sendiri yang memilih mereka sendiri yang menentukan kesepakatannya seperti apa," jelas CL (21) yang menjadi owner arisan online tersebut didampingi Pi (25), Lc (24), Yf (22), Md (20), Ml (22) dan Ar (22) dan owner arisan online lainnya, Kamis (21/4/2016) kepada bangkapos.com di Warung Makan Yogja Air Ruai Sungailiat.

Diakuinya untuk menjadi member arisan diserahkan kepada kedua member untuk sepakat mau ambil nomor mana. Begitu juga besarnya uang untuk menetapkan bunga dalam arisan merupakan kesepakatan bersama member, jika tidak sepakat maka tidak akan dijalankan oleh owner arisan.

"Mereka sepakat dapatnya segini tanggal mereka dapatnya kapan seperti simpan pinjam," kata CL.

Menurutnya, PS Warga Sungailiat yang ikut arisan online ini tidak mau membayar arisan. Saat arisan berlangsung dia mau berhenti arisan. Padahal PS banyak bermain arisan dari arisan uang, barang maupun emas sehingga mereka sebagai owner dan member merasa dirugikan jika PS berhenti dan tidak mau membayar arisan. Pihaknya sudah menghubungi PS untuk mencari jalan keluar terbaik menyelesaikan permasalahan ini.

"Kita mau mencari jalan yang baguslah tidak mungkin juga melilit orang sampai seperti itu, kita menagih baik-baik, tanya baik kapan bisa bayar jawaban dia tidak tahu tidak punya uang tidak ada kepastian dari dia sementara member nomor dua ngejer terus dong," ungkap CL.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved