Karyawan KIM Dilatih Life Basic Support

BHD akan berhasil jika dilakukan oleh orang yang terampil atau sudah ditraining, semakin cepat BHD dilakukan, keberhasilan akan diperoleh.

Karyawan KIM Dilatih Life Basic Support
IST

Laporan Wartawan Bangka Pos, Khamelia

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Kejadian mati mendadak masih merupakan penyebab kematian utama.

Bantuan hidup dasar, terutama jantung, merupakan layanan kesehatan dasar yang dilakukan terhadap penderita yang menderita penyakit yang mengancam jiwa sampai penderita tersebut mendapat pelayanan kesehatan secara paripurna.

Serangkaian tindakan medis oleh orang terdekat bisa membantu mengurangi tingkat keparahan korban, bahkan bisa mencegah kematian secara cepat.

"Korban henti jantung misalnya semakin cepat ditangani maka semakin besar peluang tertolong, untuk itu semua tenaga kerja di lingkungan rumah sakit harus belajar tentang Basic Life Support atau bantuan hidup dasar (BHD)," ujar Director of Nurse RS Premier Jatinegara, Taryudi Sarta, SKM, MM kepada bangkapos.com usai memberikan workshop Basic Life Suport kepada karyawan, perawat dan dokter Klinik Intan Medika (KIM), Rabu (27/4), di Hotel Santika.

Taryudi mengatakan, BHD akan berhasil jika dilakukan oleh orang yang terampil atau sudah ditraining, semakin cepat BHD dilakukan, keberhasilan akan diperoleh.

"Ketika tiba-tiba korban terjatuh dan pingsan, pastikan bahwa lingkungan sekitar penderita aman untuk melakukan pertolongan. Jika berada di jalan banyak kendaraan, pinggirkan, baringkan di tempat datar dan keras pada posisi telentang,” ujarnya.

Lanjutnya dalam kondisi yang aman pun harus memeriksa respon penderita dengan cara menepuk-nepuk bahunya dengan cukup keras atau menampar pipi penderita dengan sedang atau menggoyang-goyangkan badan penderita sambil menanyakan kondisinya.

"Oleh karena itu kami sangat menyambut baik pelaksanaan workshop kerjasama Ramsay Group dengan KIM, " harapnya.

Ia menjelaskan, tindakan yang bisa membantu korban henti jantung atau henti nafas adalah pertama-tama dengan mengenali dulu penyebab, pastikan keamanan penolong dan pasien, cek nadi dan nafas baru kemudian lakukan tindakan melalui kompresi jantung menggunakan tangan, setelah kompresi, lanjut Taryudi berikan tiupan nafas atau nafas buatan.

"Itu cara awam yang siapa saja bisa lakukan," ujarnya.

Workshop yang menghadirkan empat perawat senior RS Premier ini juga diisi simulasi penggunaan alat automatic emergency defibrilator (AED). Alat ini berfungsi secara otomatis mendeteksi irama jantung yang mengancam, serta dapat memberikan energi listrik pada dada ke jantung.

"AED dapat digunakan oleh tenaga non medis yang sudah mendapatkan pelatihan seperti polisi, sekuriti dan lainnya," ujar Taryudi menambahkan.

Pemilik KIM, dr.Hendry Jan mengatakan pelatihan ini merupakan kali kedua dilaksanakan, dan pihaknya bekerjasamaa dengan Ramsay Group menargetkan sampai enam kali pelatihan bagi perawat, dokter dan seluruh karyawan.

"Pelatihan pertama sudah dilaksanakan yaitu tentang pencegahan, pengendalian infeksi. Kami berharap seluruh karyawan bisa menerapkan ilmu dan skill yang diperoleh untuk pasien kita, dan bermanfaat untuk menolong orang di lingkungan mereka," ungkap dr.Hendry.

Penulis: khamelia
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved