Wartawan Kompas TV Terobos Zona Merah Abu Sayyaf Kagetkan Dunia

Wartawan KompasTV Fristian Griec Humalanggi, berhasil menerobos ke zona merah di Sulu, basisnya para milisi Abu Sayyaf.

Wartawan Kompas TV Terobos Zona Merah Abu Sayyaf Kagetkan Dunia
Kompas TV
Jurnalis Kompas TV Fristian Griec Humalanggi (empat dari kanan) dan Kameramen Dimas Baskoro (dua dari kanan) bersama tentara Filipina di Sulu, Filipina Selatan. 

BANGKAPOS.COM - Wartawan KompasTV Fristian Griec Humalanggi, berhasil menerobos ke zona merah di Sulu, Filipina, basisnya para milisi Abu Sayyaf. Bagaimana kisahnya? Berikut laporan langsung dari Sulu.

Beberapa tentara dan polisi memegang senjata berlaras panjang tampak telah bersiaga di pelabuhan. Kapal yang membawa kami perlahan merapat. Pintu kapal dibuka, kami pun ikut mengantre untuk keluar. Tatapan tajam tentara dan polisi bersenjata laras panjang membuat jantung saya berdegup kencang.

Ya, pelabuhan di Jolo, ibukota Provinsi Sulu, Filipina bagian Selatan ini memang disinyalir menjadi pintu keluar‑masuk kelompok milisi Abu Sayyaf. Sulit mengidentifikasi anggota milisi Abu Sayyaf karena memang mereka kebanyakan adalah penduduk lokal di Sulu.

Bisa jadi anggota Abu Sayyaf adalah mereka yang duduk sederet dengan bangku kami saat di kapal tadi atau bisa jadi pula mereka yang berdiri di antara kerumunan orang di tepian dermaga. Saya dan juru kamera Dimas Baskoro sepakat untuk tak saling bicara karena bisa jadi mereka bisa mengenali kami sebagai orang asing selain dari penampilan juga bahasa.

Aroma pantai yang menyengat seperti beradu dengan rasa takut. Tapi, adanya informasi bahwa 14 anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang disandera ada di Sulu menguatkan tekad kami untuk menginjakkan kaki di sarang kelompok milisi Abu Sayyaf yang terkenal selalu mengincar warga negara asing untuk diculik dan kemudian meminta uang tebusan.

Otoritas militer Filipina telah menetapkan Provinsi Sulu sebagai 'zona merah' karena pulau ini diduga kuat menjadi basis utama Abu Sayyaf. Operasi militer besar‑besaran pun dilakukan untuk menyelamatkan para sandera dari tangan mereka.

Kami pun bergegas menuju Kway-kway, sejenis bajaj yang mangkal tak jauh dari dermaga. "Police office (kantor polisi)," kata saya singkat kepada sang pengemudi. Bajaj butut itu pun melaju. Kantor polisi ternyata hanya terletak sekitar 200 meter dari pelabuhan.

Saya dan Bang Dimas ‑ sapaan akrab saya kepada juru kamera yang ditugaskan bersama saya ke Filipina Selatan ini sama sekali tak saling bicara sampai kemudian kami tiba di kantor polisi.

Dalam bahasa Inggris dengan dialek bahasa lokal yang kental, Sersan Sitin ‑ anggota polisi yang menerima kami mengaku sangat panik. Bagaimana bisa ada jurnalis asing masuk ke Sulu.

Ia pun lantas berkali‑kali menelepon atasannya untuk berkoordinasi. Paspor kami diperiksa. Sekitar 30 menit kemudian kami baru diantarkan ke kantor polisi setingkat polres di Jolo. Di Polres Jolo, kami diterima oleh Sersan Aiman Kamlon yang lagi‑lagi mempertanyakan keberanian kami ke Sulu.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas TV
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved