Banyak Penjara di Negara Ini Tutup Karena Kekurangan Penjahat

Saking sedikitnya kasus kejahatan, sampai-sampai sejumlah penjara di Negeri Kincir Angin itu ditutup.

Banyak Penjara di Negara Ini Tutup Karena Kekurangan Penjahat
telegraph.co.uk
Suasana sebuah sel di LP Scheveningen, Den Haag, Belanda. 

BANGKAPOS.COM, DEN HAAG - Tingkat kriminalitas di Belanda tergolong sangat rendah. Saking sedikitnya kasus kejahatan, sampai-sampai sejumlah penjara di Negeri Kincir Angin itu ditutup.

Pada tahun 2013 lalu, 19 penjara telah ditutup karena tidak memiliki cukup penjahat untuk mengisinya. Kemudian tahun ini, lima penjara dijadwalkan ditutup pada akhir musim panas.

Sebagaimana dikutip dari Tech Insider, Sabtu (21/5/2016), penutupan itu menyebabkan hampir 2.000 orang kehilangan pekerjaan. Hanya 700 posisi yang akan dipindah ke peran lain.

Tren penutupan penjara Belanda mulai terjadi pada tahun 2004 ketika kriminalitas menurun.

Pada September tahun 2015 lalu, negara tersebut justru mengimpor 240 tahanan dari Norwegia agar dapat mempertahankan fasilitas penjara.

Menteri Kehakiman Ard van der Steur mengatakan pada parlemen jika biaya pemeliharaan penjara tak penuh sangat tinggi.

Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kriminalitas di Belanda sangat kecil di antaranya, fokus pada rehabilitasi dibanding hukuman dan sistem monitoring untuk memastikan mantan kriminal dapat masuk kembali ke dunia kerja.

Sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2008 menemukan bahwa sistem monitoring ini dapat mengurangi tingkat residivis sampai 50 persen.

Daripada membuang uang untuk memenjara orang, lebih baik para pelaku kriminal diberi kesempatan untuk berkontribusi pada masyarakat.

Dari 17 juta jumlah populasi Belanda, hanya 11.600 orang saja yang dipenjara. Itu artinya, tingkat penahanan di sana hanya 69 per 100.000 orang.

Berkebalikan dengan itu, di mana 716 dari 100.000 orang di Amerika Serikat (AS) dipenjara. Ini menjadi yang tertinggi di dunia.

Tingginya angka kriminalitas itu disebabkan karena kurangnya perhatian terhadap program rehabilitasi setelah residivis menyelesaikan hukumannya.

Tanpa jaringan pengaman untuk memberi mereka pilihan, banyak residivis yang kembali pada kebiasaan lama.

Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved