Sabtu, 11 April 2026

Rektor Baru UBB Muh Yusuf Siap Beri Terobosan Atasi Babel Pasca Timah

UBB sebagai pusat unggulan di provinsi ini senantiasa mengambil peran aktif dalam memberikan solusi terhadap setiap masalah di era pasca timah.

Editor: fitriadi
Istimewa
Rektor UBB Dr Muh Yusuf dan Wakil Rektor II UBB Prof Agus Hartoko bersama staf dan beberapa dosen, sehari penuh mengunjungi Pulau Semujur, Pulau Ketawai dan Pulau Gusung Asam, Bangka Tengah, Minggu (29/05/2016). 

Laporan wartawan bangkapos.com, dodi hendriyanto

BANGKA, BANGKAPOS.COM – Rektor baru Universitas Bangka Belitung (UBB) Dr Ir Muh. Yusuf M.Si menegaskan UBB sebagai pusat unggulan (center of exelence) di provinsi ini senantiasa mengambil peran aktif dalam memberikan solusi terhadap setiap masalah di era pasca timah.

“Sebagai insan akademis, kami terpanggil untuk menyumbangkan semua ilmu dan teknologi yang ada pada kami untuk menjawab berbagai bidang yang terdampak akibat kelesuan ekonomi pasca timah,” ujar Muh Yusuf, usai menyurvei potensi perikanan dan kelautan yang ada di Pulau Semujur, Ketawai dan Gusung Asam, Minggu(29/05/2016).

Dalam survei lapangan di tiga dari 12 pulau di Bangka Tengah itu, rektor didampingi Wakil Rektor II Prof Dr Agus Hartoko MSc, humas, staf dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi UBB.

Survei lapangan itu juga disertai Pengawas Perikanan Satker PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan, staf Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Pangkalpinang. Rombongan ini menggunakan Kapal Pemburu Pengawas Perikanan dengan nama lambung “Napoleon 035”.

Dalam survei lapangan itu, rektor dan staf memperoleh informasi maraknya nelayan “andon” (pendatang), kapal “compreng” bertonase besar dari DKI Jakarta, minimnya pasokan benih ikan kerapu, dan kesenjangan teknologi alat tangkap antara nelayan lokal dan pendatang.

Menurut rektor dan staf satker Pengawas Perikanan, solusi bagi nelayan andon diperlukan adanya nota kesepahaman (MoU) antara provinsi nelayan ‘andon’ dan Provinsi Kepulauan Babel. Sejauh ini MoU dimaksud belum ada.

Sedangkan kapal ‘compreng’ adalah kapal bertonase di atas 30 GT (gross ton) asal DKI Jakarta yang menangkap sumberdaya cumi di sekitar perairan Bangka Tengah dan Bangka Selatan.

Operasi kapal “compreng” dengan teknologi tangkap besar, menimbulkan kesenjangan pada nelayan tradisional Babel yang masih menggunakan alat tangkap sederhana.

Operasi kapal itu belum memenuhi ketentuan perundangan berlaku. Semestinya hasil tangkapan cumi itu harus dilelang (dijual) di Provinsi Kepulauan Babel, sehingga mendatangkan meningkatan perlehan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Khusus kapal ‘compreng’ itu, sejauh ini belum ada MoU antara Provinsi DKI dan Babel. Ke depan seharusnya dilakukan inisiasi untuk mereliasisasi MoU tersebut,” ujar Muh Yusuf saat diskusi dengan staf Satker Pengawas Perikanan.

Sementara itu di perairan Pulau Semujur, rektor melihat potensi pengembangan budidaya keramba ikan kerapu. Usaha ini belum maksimal karena keterbatasan pasokan benih.

“Mengatasi hal ini, ada dua alternatif. Pertama, membuat penangkaran benih di Babel. Atau, melakukan kerjasama pasokan benih dari Balai Budidaya di Lampung,” tegas Muh Yusuf, yang memperoleh gelar doktor di bidang perikanan dan kelautan.

Mengenai kesenjangan alat tangkap nelayan tradisional, Muh Yusuf yang dilantik menjadi Rektor UBB pada 25 April oleh Menristekdikti M Nasir menegaskan, tak ada cara lain kecuali pemerintah memberikan bantuan alat tangkap cumi modern dan pelatihan teknis.

“Ke depan UBB beserta seluruh sivitas akademika siap memberikan solusi nyata. Khusus sub sektor pertanian akan dikembangkan sentra bibit unggul lada, karet, padi ladang, buah durian dan lain-lain. Semuanya dikelola dalam unit penangkaran di Kampus Terpadu UBB,” ujar Muh Yusuf. 

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved