Balita Asal Kace Masuk Rumah Sakit Setelah Divaksin
Setelah menjalani pemeriksaan di poli anak, Kanza, sapaan akrabnya, dinyatakan harus dirawat. Bayi perempuan itu didiagnosa kekurangan darah sehingga
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Cordelia (4 bulan) terpaksa dirawat di rumah sakit setelah kondisi kesehatannya menurun pascamenerima vaksin imunasisi sekitar satu bulan lalu.
Serupa dialami satu bayi lainnya yang juga berasal dari Desa Kace, Kecamatan Mendobarat, Kabupaten Bangka. Meski dirawat di dua rumah sakit berbeda, kedua bayi itu sama-sama menderita panas yang tidak turun hingga hampir satu bulan.
Fherie, paman Cordelia, menyebut keponakannya dibawa ke Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Pangkalpinang pada Senin (10/7/2016) lalu. Setelah menjalani pemeriksaan di poli anak, Kanza, sapaan akrabnya, dinyatakan harus dirawat. Bayi perempuan itu didiagnosa kekurangan darah sehingga harus menerima transfusi.
"Kondisi keponakanku itu langsung drop setelah menerima imunisasi pada 8 Juni lalu. Dia diimunisasi di Posyandu Desa Kace Tengah. Setelah imunisasi badannya panas. Awalnya dikira panas biasa. Tapi kemudian panasnya tidak turun-turun. Ditambah muka dan badannya yang pucat," kata Fherie saat dihubungi Bangka Pos, tadi malam.
Fherie mengatakan hasil pemeriksaan laboratorium menyebut Kanda kekurangan darah. Saat diperiksa pada Senin lalu, Hb Kanza hanya lima. Sementara normalnya Hb bayi sekitar 12.
"Kami mulai bertanya-tanya tentang kondisi keponakan kami ini setelah Pak Kades datang membesuk dan bercerita ada bayi lain yang mengalami kejadian serupa. Bayi itu juga dirawat di rumah sakit dengan kondisi yang sama. Dan kebetulan diimunisasi di tempat dan waktu yang sama dengan keponakan saya ini," ujarnya.
"Sebelum diimunisasi, kondisi keponakan saya itu sehat. Tidak ada masalah apapun dengan kesehatannya. Karenanya, ketika badannya panas, dikira panas biasa saja," lanjut Fherie
Akibat kejadian ini, Fheri menyebut ibu Kanza sedikit trauma. Namun dia tidak bisa memastikan Kanza dirawat karena vaksin imunisasi yang diterimanya. Saat disinggung tentang dugaan vaksin palsu, Fherie juga enggan berspekulasi. Dia hanya berharap keponakannya segera pulih setelah pulang dari rumah sakit pada kemarin sore.
"Saya tahu kronologisnya karena kebetulan saya yang mengantar keponakan saya ini ke rumah sakit," tegasnya.
Babel aman
Kemarin, Balai POM di Pangkalpinang dan Dinas Kesehatan Bangka Belitung menggelar jumpa pers terkait peredaran vaksin palsu. Berdasarkan penelusuran di 34 apotek dan hasil uji sampel yang dikirim Balai POM ke BPOM, Babel aman dari vaksin palsu.
"Telah dilakukan penelusuran vaksin palsu di 34 sarana di Provinsi Bangka Belitung, dari hasil penelusuran semua sarana memenuhi ketentuan dalam hal pengadaan vaksin dan hasil uji laboratorium dari sampel memenuhi syarat," kata Kepala Balai POM di Pangkalpinang, Rossy Hertati, Rabu (13/7).
Rossy menjelaskan berdasarkan surat edaran BPOM pusat, Balai POM melakukan pemeriksaan terhadap sumber pengadaan vaksin dan juga bentuk fisik yang dianggap mencurigakan untuk diuji di laboratorium. Ia menyebutkan pihaknya mengambil sampel untuk uji laboratorium dan dari hasil uji tersebut tidak ditemukan vaksin palsu.
Ditambahkan Rossy, informasi yang beredar terkait satu apotek di Pangkalpinang yang diduga menjual vaksin palsu tidak benar. Rossy menyebutkan pihaknya memberikan laporan hasil pemeriksaan sementara di 34 sarana yang terdiri dari 3 rumah sakit pemerintah, 6 rumah sakit swasta, 3 gudang farmasi, 6 puskesmas, 5 apotek, 4 klinik bersalin, 1 praktek dokter, dan satu praktek bidan.
Dikatakan Rossy pada saat pemeriksaan terdapat satu apotek yang tidak dapat menyerahkan faktur pembelian sehingga pihaknya melaporkan temuan di lapangan tersebut ke BPOM pusat sembari terus menelusuri pengadaan vaksin dari apotek tersebut. Setelah menelusuri hingga mengambil sampel dari apotek tersebut baru tanggal 11 kemarin pihaknya memastikan bahwa sumber pengadaan vaksin dari apotek tersebut resmi.
"Ada satu apotek dimana pada waktu kami melakukan pemeriksaan tidak bisa menujukkan dokumen pembeilian resmi baik berupa pemesanan maupun faktur, karena adanya pergantian apoteker baru yang baru bekerja 4 hari, namun setelah ditelusuri lebih lanjut dan dapat dibuktikan bahwa berasal dari sumber resmi," sebutnya.
Ia menjelaskan bahwa perihal apotek tersebut lamban menyerahkan faktur tersebut karena pergantian apoteker baru, dan tidak bisa menghubungi freelancer yang mengantarkan obat-obatan tersebut. Sehingga dalam laporan sementara yang dilaporkan ke BPOM pusat pada tanggal 25 Juni terdapat temuan di lapangan bahwa ada apotek yang tidak bisa menyerahkan faktur pembelian.
Rossy menduga laporan sementara tersebutlah yang membuat BPOM pusat mengeluarkan rilis yang tersebar di media. Rossy menegaskan hasil penelusuran pihaknya semua vaksin yang berada di Babel sesuai dengan ketentuan dan didapatkan dari sumber yang resmi.
"Kita mengklarifikasi bahwa dari hasil penulusaran yang dilakukan dan hasil uji laboratorium dari sampel yang kita kirimkan vaksin yang beredar di Babel sudah memenuhi persyaratan," sebutnya.
4 vaksin palsu
Diberitakan sebelumnya, BPOM merilis hasil pemeriksaan 39 sampel jenis vaksin yang diambil dari 37 titik fasilitas layanan kesehatan yang tersebar di sembilan provinsi. Hasilnya ditemukan empat sampel vaksin palsu. Satu diantara sembilan wilayah itu adalah Pangkalpinang.
Direktur Pengawasan Distribusi Obat BPOM, Arustiono menyebut empat sampel vaksin itu disebut palsu karena hanya mengandung garam.
Ada pula yang mengandung antigen atau perangsang respon kekebalan tubuh. Sembilan provinsi yang menjadi wilayah pemeriksaan BPOM antara lain Pekanbaru (Riau), Palembang (Sumsel), Bandar Lampung (Lampung), Serang (Banten), DKI Jakarta, Bandung (Jabar), Surabaya (Jatim), Pangkalpinang (Babel), dan Batam (Kepri).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/vaksin_20160629_085904.jpg)