Guru Berusia 100 Tahun Ini Ajari Santrinya dari Tempat Tidur

Semasa hidupnya, ada puluhan bahkan ratusan kitab Lontara yang ia tulis dengan tangannya sendiri.

Guru Berusia 100 Tahun Ini Ajari Santrinya dari Tempat Tidur
Kompas.com
La Tahera, seorang guru kitab lontara dan kitab gundul yang sudah berusia lebih dari 100 tahun kini masih telaten mengajari murid-muridnya meski ia hanya terbaring di tempat tidur karea usianya sudah semakin lanjut. 

Ismail, salah satu santri yang pernah berguru kitab Lontara dan masih memegang sejumlah buku karya gurunya itu masih kerap datang ke rumah La Tahera di Kampung Allacalimpo, Desa Pakie, Kecamatan Tiroang, Pinrang, Sulawesi Selatan.

Ismail bertanya banyak hal mengenai isi kitab Lontara yang sarat petuah dan falsafah hidup Bugis kepada sang guru.

Ajarkan egaliterianisme

Dia juga masih memegang sejumlah buku karya gurunya itu. Menurut Ismail yang bekerja di Dinas Pengairan Pinrang dan imam masjid Taqwa Madimeng, Pinrang, sang guru Ambo Mambu yang tidak pernah duduk di bangku sekolah tersebut adalah penganut ajaran egaliterisme.

Cinta dan ketulusan sang guru tak terbatas kepada hanya sesama, tetapi juga kepada makhluk lain, termasuk binatang dan sang pencipta.

La Tahera memiliki bakat dan kemampuan menulis kitab Lontara berasal dari sosok ayahnya yang dikenal mahir dan menguasai kitab tersebut dan kitab kuning yang sering disebut kitab gundul.

La tahera memanfaatkan waktu belajar di rumah bersama ayahnya, termasuk saat bekerja di kebun.

Ismail yang datang menjenguk sang guru setelah Lebaran pekan lalu kepada Kompas.com mengisahkan, tempo hari ketika ia pernah berjalan bersama La Tahera di sebuah pematang sawah, sang guru tiba-tiba secara tidak sengaja menendang potongan kayu di tengah pematang sawah. Sang guru bukannya marah dan melampiaskan emosi kepada kayu yang membuat kakinya berlumuran darah, namun La Tahera malah mengusap potongan kayu yang ia tendang sambil berucap dalam bahasa bugis, “Tabe sobat de witaki,” yang kira-kira berarti “Maaf sahabatku saya tidak lihat hingga saya tendang”.

Tak heran jika La Tahera memiliki ratusan murid yang tersebar di berbagai daerah kabupaten di Sulawesi Selatan, bahkan hingga ke Kalimantan, Palu, Sulbar hingga Malaysia.

“Biasanya kalau saya lupa-lupa sejumlah bab dalam kitab Lontara yang pernah ia ajarkan, saya masih sering datang dan bertanya langsung kepada beliau. Saya bangga punya guru seperti dia. Ia tak hanya mengajarkan beragam ilmu, tetapi juga mempraktikkan dalam hidupnya sendiri, termasuk ajaran tentang kejujuran, keberanian, solidaritas sesama dan keikhlasan berbuat kepada sesama dan kepada sang pencipta,” tutur Ismail, saat bersilaturrahmi ke rumah gurunya di Kampung Allacalimpo, Desa Pakie, Kecamatan Tiroang, Pinrang, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Halaman
123
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved