Guru Berusia 100 Tahun Ini Ajari Santrinya dari Tempat Tidur

Semasa hidupnya, ada puluhan bahkan ratusan kitab Lontara yang ia tulis dengan tangannya sendiri.

Guru Berusia 100 Tahun Ini Ajari Santrinya dari Tempat Tidur
Kompas.com
La Tahera, seorang guru kitab lontara dan kitab gundul yang sudah berusia lebih dari 100 tahun kini masih telaten mengajari murid-muridnya meski ia hanya terbaring di tempat tidur karea usianya sudah semakin lanjut. 

Meski usianya sudah lanjut, namun penglihatan dan pendengaran LanTahera terbilang masih normal. Tak heran, banyak santri-santrinya masih datang bertanya dan berguru kepadanya, meski usianya uzur.

Di usianya yang 100 tahun, La Tahera tak pernah kesepian. Saat hari raya Lebaran atau hari-hari besar keagamaan, rumahnya kerap tak henti-hetinya dikunjungi warga dan murid-muridnya dari perantauan hanya untuk memberi salam dan mendoakan agar sang guru agar hidupnya diberkahi.

Mengajar dari tempat tidur

Tak sedikit santri La Tahera minta sang guru untuk mendoakan dirinya agar kelak hidupnya diberkahi Tuhan. Karena tak mampu lagi duduk dalam waktu lama karena faktor usia lanjut, La Tahera terpaksa hanya mengajari warga atau murid-muridnya dari tempat tidur.

Agar bisa melihat, membaca dan menjelaskan buku-buku Lontara hasil tulisan tangannya puluhan tahun lalu, para murid, anak-anak dan cucunya kerap membantu La Tahera memegang kitab Lontara dan menyimpannya di atas dada sang guru tersebut.

Tanpa bantuan kacamata, La Tahera bisa mengeja dan menjelaskan setiap makna dari tulisan yang ia buat semasa masih kuat menulis.

Kompas.com yang sempat bertanya soal rahasia sehat dan berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun, ia sempat memberi petuah Toriolo atau ajaran keselamatan para ulama atau para pendahulu.

Menurut La Tahera, ada empat bekal hidup agar manusia bisa berusia panjang, tidak punya musuh dan selamat mengarungi hidup. Pertama, Allempurang atau kejujuran pada hati nurani. Kedua, Sabbara, atau sabar menghadapi situasi hidup apa pun termasuk saat diuji dengan segala kesenangan hidup.

Ketiga, Sipakaraja na Sipakalebbi atau saling menghormati dan saling menghargai sesama seperti menghargai diri sendiri, dan keempat, Ada Tongeng atau tutur kata yang berlandaskan pada kebenaran dan keiklasan dalam setiap perbuatan apa pun.

Di masa tuanya, La Tahera kini dirawat di rumah Hali, anak bungsunya dari delapan bersaudara. Karena tak mampu lagi berdiri atau duduk, La Tahera menjalankan ritual shalat lima waktu, termasuk shalat dua rakaat (shalat sunnah usai berwudu) dan shalat tahajud di tengah larut malam dalam posisi terbaring di tempat tidurnya.

Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved