Selasa, 7 April 2026

Gubernur Rustam Minta Tradisi Lebaran Puasa Enam Jangan Luntur

Lebaran puasa enam ini biasanya dibalut tradisi 'Nganggung' sebagai bentuk rasa syukur dan ciri gotong royong di Negeri Serumpun Sebalai.

Editor: edwardi
IST
Gubernur Bangka Belitung H Rustam Effendi bersama masyarakat Desa Kimak merayakan Lebaran Puasa Enam, di Masjid Fathurahman Desa Kimak Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Minggu (31/7/2016). 

Laporan wartawan bangkapos.com, dodi hendriyanto

BANGKA, BANGKAPOS.COM -- Lebaran 'Puasa Enam' di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), terasa istimewa lantaran acara penutupan Puasa Enam berlangsung meriah melibatkan ratusan warga desa.

Lebaran puasa enam ini biasanya dibalut tradisi 'Nganggung' sebagai bentuk rasa syukur dan ciri gotong royong di Negeri Serumpun Sebalai.

"Tradisi Nganggung pasti selalu ada pada peringatan 12 sya'ban dan 'Puasa enam'. Nganggung itu berasal dari Nanggung atau Pikul. Makanan dari warga ini dibopong atau pikul ke lokasi acara dengan menggunakan nampan atau kami biasa menyebutnya Dulang," ungkap Gubernur Babel H Rustam Effendi, disela-sela acara Lebaran Puasa Enam di Masjid Fathurahman Desa Kimak Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka, Minggu (31/7/2016).

Bagi umat muslim, 'Puasa Enam' pada bulan syawal selepas lebaran Idul fitri hukumnya sunnah. Kaum Muslimin yakin puasa sunnah enam ini menjadi penyempurna Puasa Ramadhan yang sebelumnya dilaksanakan satu bulan penuh. Pelaksanaannya boleh dilakukan berurutan ataupun terpisah-pisah.

Diawali dengan memanjatkan doa memohon harapan dan kesempurnaan ibadah setelah selesai menunaikan puasa enam, Lebaran 'Puasa Enam' di Desa Kimak Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ditutup makan bersama menyantap hidangan 'Nganggung' hasil gotong royong warga sekitar.

Gubernur Rustam Effendi mengungkapkan, cermin gotong royong masyarakat Indonesia masih melekat kuat pada suku melayu Bangka Belitung. Tradisi 'Nganggung' atau memikul dalam bahasa Indonesia merupakan tradisi adat warga untuk menyediakan prasmanan pada acara tertentu.

Pada umumnya, lanjut dia, menu utama yang disumbangkan warga ini berisi ketupat dan opor daging, namun tidak ada aturan khusus memberi makanan apa saja asal halal dan sehat, semua disesuaikan dengan kemampuan warga itu sendiri.

"Menunya disesuaikan dengan kemampuan warga itu sendiri, makna gotong royong tercermin dari acara nganggung ini," tukas Rustam.

Bukan hanya gotong royong, makna lain dari Nganggung ini juga bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan nikmat dan hasil bumi yang telah diberikan Allah SWT selama ini.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved