Liputan Khusus Harian Bangka Pos

Upaya Pengembalian Kejayaan Lada Babel Belum Terintegrasi, Semuanya Berjalan Sendiri-Sendiri

Upaya pengembalian kejayaan Lada Bangka Belitung belum terintegrasi. Pemerintah Daerah, baik itu Pemprov dan Kabupaten/Kota, serta lembaga

Upaya Pengembalian Kejayaan Lada Babel Belum Terintegrasi, Semuanya Berjalan Sendiri-Sendiri
Bangka Pos / Iwan S
Hijaunya deretan tanaman lada di kebun percontohan BP3L Babel?. 

BANGKAPOS.COM--Upaya pengembalian kejayaan Lada Bangka Belitung belum terintegrasi. Pemerintah Daerah, baik itu Pemprov dan Kabupaten/Kota, serta lembaga-lembaga terkait masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal, Lada Babel keluar dalam satu merek yaitu Muntok White Paper.

Demikian disampaikan Ketua Badan Pengelolaan, Pengembangan, dan Pemasaran Lada (BP3L) Babel, Zainal Arifin kepada Bangka Pos, Selasa (2/8) lalu. Zainal mengatakan Pemda dan lembaga terkait perlu duduk bersama mengatasi permasalahan yang ada mulai hulu hingga hilir.

"Kita lihat misalnya Kabupaten Bangka bekerjasama dengan BPPT, Kabupaten Bateng dengan Batan, sementara pemerintah Provinsi Babel dengan UGM dan BP3L dengan Balitro. Padahal lada Babel ini yang keluar produknya satu merek yaitu Muntok White Paper, kenapa kita tidak satu meja sepakat menggandeng satu lembaga saja seperti misalnya menggandeng Universitas Bangka Belitung?" kata Zainal.

Kesan sendiri-sendiri tampak dari dua kegiatan yang terpantau Bangka Pos. Di Desa Puput-Simpang Gedong, Kecamatan Simpang Katis, Kabupaten Bangka Tengah, Bupati Bangka Tengah Erzaldi Rosman hadir bersama ahli lada BATAN, Dr Nana. Mereka menghadiri kegiatan yang digagas Forum Komunikasi Petani Lada (FKPL) Bangka Belitung.

Bertajuk Seminar Lada Bangka Belitung "Kembalikan Kejayaan Sahang Bangka Belitung", kegiatan itu diselingi penganugerahan Erzaldi sebagai Tokoh Lada Babel.

Di tempat terpisah, Wakil Gubernur Babel Hidayat Arsani melakukan ujicoba pupuk cair organik dari Korea di Desa Jada Barin, Kabupaten Bangka. Ujicoba itu bertujuan mengatasi penyakit kuning pada tanaman Lada.

Menurunkan ilmu
Lebih lanjut, Zainal mengatakan penggandengan UBB dalam upaya mengembalikan kejayaan Lada Babel dinilai akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar. Zainal menyebut, selain menurunkan ilmu, langkah itu bisa memajukan universitas negeri yang menjadi kebanggaan masyarakat Babel.

"Kenapa kita tidak bisa duduk bersama menggunakan yang telah ada di kita. Ini kesannya bergerak sendiri-sendiri, padahal semestinya kita duduk bersama untuk kemajuan bersama," ujarnya. Zainal menegaskan memajukan lada Babel butuh perhatian serius dan satu kesatuan sehingga petani tidak bingung.

Diberitakan sebelumnya, petani Lada Babel mengeluhkan penurunan harga yang selalu terjadi setiap musim panen. Sepekan terakhir, harga lada yang bulan lalu sempat menyentuh angka Rp 180.000 berangsur turun hingga Rp 115.000 per kilogram. Penurunan selalu terjadi setiap musim panen yang puncaknya antara Agustus hingga September.

Keterbatasan lahan
Meski permintaan Lada Babel cukup tinggi, saat ini jumlah produksinya relatif sedikit dan bersaing ketat dengan penghasil lada di dunia seperti Vietnam, India, dan Brasil.

Halaman
123
Editor: tidakada016
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved