Aparat Diam Saja Dermaga Nelayan Dikuasai Penambang, Sungai Dihancurkan TI Apung

Kami sebagai nelayan, tidak tahu harus berbuat apa. Biarlah apaprat yang mengambil tindakan. Tapi sudah berminggu-minggu, tidak juga nggak ada tindaka

Aparat Diam Saja Dermaga Nelayan Dikuasai Penambang, Sungai Dihancurkan TI Apung
Bangka Pos / Riyadi
Aktifitas penambangan TI apung rajuk ilegal di Sungai Perimping-Tanjung Batu (sekitar Pulau Kianak). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Jumlah Tambang Inkonvensional (TI) apung rajuk yang beroperasi di depan Jembatan Perimping Kecamatan Riausilip, semakin bertambah.

Pantauan Bangka Pos Group, Kamis (11/8) pagi hingga sore, ada sekitar enam atau tujuh unit TI apung rajuk, beroperasi di depan Jembatan Perimping Kecamatan Riausilip.

Beberapa hari sebelumnya, TI apung yang beroperasi di tempat tersebut, baru empat unit.

Nelayan Sungai Perimping Adir mengatakan, dalam dua atau tiga minggu terakhir, TI apung rajuk terus beroperasi di depan Jembatan Perimping.

"Kami sebagai nelayan, tidak tahu harus berbuat apa. Biarlah apaprat yang mengambil tindakan. Tapi sudah berminggu-minggu, tidak juga nggak ada tindakan, dari desa juga nggak ada gerakan, katanya mau menangani TI apung Perimping," ujarnya.

Warga Belinyu, Iwan mengaku malu dan sedih melihat pemandangan (TI apung) di dekat jembatan Perimping.

"Kenapa di dekat jembatan Perimping, masih ada TI apung rajuk, jumlahnya juga terus bertambah. Sedih kami lihat sungai diolah seperti itu. Yang paling menyedihkan, TI apung beroperasi di dekat jembatan, apa ada yang melindungi ya," kata Iwan.

Sebelumnya, Camat Riausilip Saparudin mengatakan, akan cek ke lokasi TI apung di dekat jembatan Perimping.

"Nanti akan kita cek," kata Saparudin.

Selain mengusai Sungai Perimping, dermaga nelayan tradisional di Dusun Tirus, Desa Riau Kecamatan Riausilip juga menjadi tempat tambat perahu dan speed lidah penangkut pekerja TI apung.

Bahkan ponton TI apung pun, ditambatkan di situ.

Nelayan setempat Arman menyebutkan, nelayan tidak bisa berbuat apa-apa dengan ponton-ponton TI apung yang masuk dan tambat dermaga nelayan.

"Ntah pening juga lihat, ntah-ntah siapa yang membawa masuk ponton-ponton TI apung itu. Dermaga ini hanya untuk dermaga nelayan, bukan untuk tambat ponton TI apung, kami terus terang merasa terganggu," ujarnya, Kamis kemarin.

Ketua HNSI Kecamatan Riausilip Sun Kim juga merasa kesal, karena dermaga nelayan tradisional Tirus digunakan untuk tambat TI apung.

"Sebenarnya, speed lidah dan perahu yang sering digunakan untuk antar jemput penambang, dilarang keluar masuk dermaga nelayan, tapi mereka memandel, apalagi ponton TI apung sampai-sampai ada yang ditambatkan di dermaga, kan sudah keterlaluan, dermaga ini untuk perahu nelayan bukan untuk ponton TI apung," kata Sun Kim. (yik)

Editor: Hendra
Sumber: babel news
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved