Yusril Siap Jegal Ahok Jika Tak Mau Mundur Atau Cuti

Yusril berpinsip bahwa seorang petahana haruslah mundur atau cuti ketika ia hendak maju dalam Pilkada‎.

Yusril Siap Jegal Ahok Jika Tak Mau Mundur Atau Cuti
Kompas.com/Robertus Belarminus
Bakal calon gubernur DKI Jakarta, Yusril Ihza Mahendra di kantor DPP PDI Perjuangan untuk mengikuti tes yang sempat tertunda saat fit and proper test, Selasa (17/5/2016). 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Pakar hukum dan tata negara, Yusril Ihza Mahendra, mempertimbangkan untuk maju sebagai pihak terkait dalam pengujian UU Pilkada yang diajukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke Mahkamah Konstitusi (MK). Ahok sendiri merupakan petahana Pilgub DKI Jakarta.

"‎Sebagaimana Pak Ahok, posisi saya sama-sama mempunyai legal standing baik untuk menguji UU Pilkada maupun maju sebagai pihak terkait," kata Yusril dalam pernyataannya, Jumat (12/8/2016).

Yusril pun berpinsip bahwa seorang petahana haruslah mundur atau cuti ketika ia hendak maju dalam Pilkada‎. Hal itu dimaksudkan agar keadilan ditegakkan dan menjauhkan dari segala kecurangan.

"‎Seorang petahana yang tidak berhenti atau cuti potensial untuk menyalahgunakan kekuasaan untuk curang dalam Pilkada. Saya menentang keras hal itu," tegasnya.

Masih kata Yusril, ‎Ahok seharusnya berani bertarung secara ksatria, jujur dan adil serta menjauhkan diri dari niat buruk untuk memanfaatkan jabatan. ‎

Ditegaskannya, ia akan membantah dan melawan argumentasi Ahok di MK dan memohon lembaga tersebut menolak permohonan mantan Bupati Belitung Timur itu demi keadilan dan kepastian hukum.

"Alasan Pak Ahok dia minta agar pasal cuti dihapuskan karena sedang bahas APBD adalah akal-akalan yang tidak punya basis alasan konstitusional. Saya mengajak warga DKI untuk mendukung Pilkada yang jujur dan adil serta bersih dari segala kecurangan dan pemanfaatan jabatan," imbuhnya.

Ahok bisa gigit jari

Pengamat politik Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun menilai, tiga partai politik yang kini mendukung bakal calon gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bisa sewaktu-waktu meninggalkan pria yang karib disapa Ahok itu.

Diantara tiga partai pendukung Ahok yakni Golkar, Hanura, dan Nasdem, Ubedilah menyebut Golkar lah yang paling berpotensi meninggalkan Ahok karena kader internal partai yang tidak satu suara.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved