Petani Lada Babel Letih Merawat Lada Belum Terbayarkan, Ini Alasannya

Seminggu terakhir harga lada di Pulau Bangka berkisar 115.000-135.000 per kilogram.

Tribun Timur
Petani memarkirkan mobil mewahnya di tengah kebun lada di Desa Bantilang, Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Minggu (8/8/2016). Petani di desa ini rata-rata memiliki mobil dengan harga mahal hasil dari panen lada mereka. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dodi Hendriyanto

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Dua bulan terakhir ini petani lada sedang bergembira. Tanaman lada yang telah dirawat bertahun-tahun, sebagian besar sudah berbuah dan sekarang masuk musim panen.

Namun sayangnya, di tengah kegembiraan melihat lada yang telah memerah di sekeliling batang tersebut, para petani lada menghadapi harga yang tidak begitu memuaskan. Seminggu terakhir harga lada masih berkisar Rp 115.000-Rp 135.000 per kilogram.

Padahal petani berharap harga lada bisa mencapai di atas Rp 150.000 per kilogram.

"Rasanya letih dan capek merawat sahang (lada--red) kami ini akan terbayar jika harganya bisa di atas 150.000. Kalau sekarang ne masih impas-impas bai," ujar Yusuf, petani lada dari Kelurahan Tuatunu, Pangkalpinang, Rabu (17/8/2016).

Yusuf berharap, kegembiraan petani yang sedang merayakan panen lada sekarang ini, bisa merasakan kegembiraan harga lada juga.

Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved