Demokrasi, Sekjen PDI-P Anggap Video Kader Tolak Ahok Bukan Perlawanan

"Ya ini kan sebuah ekspresi. Itulah bedanya PDI-P dengan yang lain, karena kami itu partai rakyat, ada berbagai ragam ekspresi yang disampaikan..."

Demokrasi, Sekjen PDI-P Anggap Video Kader Tolak Ahok Bukan Perlawanan
Kompas.com/Ronny Adolof Buol
Sekjen PDIP Hasto Krisyanto saat berada di Manado, Selasa (9/8/2016) 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristianto menilai, beredarnya video kader PDI-P di DKI yang menolak pencalonan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon gubernur adalah sebuah ungkapan atau ekspresi dalam berdemokrasi.

Menurut dia, hal tersebut bukan suatu tindakan perlawanan.

"Ya ini kan sebuah ekspresi. Itulah bedanya PDI-P dengan yang lain, karena kami itu partai rakyat, ada berbagai ragam ekspresi yang disampaikan, dan itu sah," ujar Hasto, di Kantor DPP PDI-P, Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (18/8/2016).

Meski demikian, Hasto mengimbau agar ekspresi itu disampaikan sesuai dengan tradisi yang berbudaya.

Ekspresi yang disampaikan juga harus menghormati Ahok sebagai pemimpin dan Gubernur DKI Jakarta, sehingga harus disampaikan dengan sopan dan menghargai.

Di sisi lain, menurut Hasto, meskipun beberapa kader menolak salah satu bakal calon yang akan diusung, pada akhirnya mereka harus tunduk pada keputusan yang diambil partai.

"Memang, kami belum mengeluarkan keputusan politik. Tetapi, ketika keputusan sudah diambil, disiplin kepartaian dan kultur yang sudah kami bangun mengikuti kedisiplinan itu," kata Hasto.

Sebelumnya, sebuah video berdurasi 32 detik yang menggambarkan kader PDI-P menyanyikan yel penolakan terhadap bakal calon gubernur petahana DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, beredar di media sosial.

Ada beberapa kader PDI-P yang terlihat dalam video tersebut, seperti anggota DPRD DKI Jakarta Merry Hotma, Ketua DPRD DKI Jakarta sekaligus Sekretaris DPD PDI-P DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD PDI-P DKI Jakarta Bambang DH, dan Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) dari PDI-P DKI Jakarta Gembong Warsono.

Yel tersebut dinyanyikan dua kali. Terdengar liriknya menginginkan Ahok kalah dalam pilkada.

"Bersatu padu untuk menang, gotong royong untuk menang, berjuanglah untuk menang, Ahok pasti tumbang."

"Bersatu padu untuk menang, gotong royong untuk menang, berjuanglah untuk menang, Ahok tunggang langgang."

Saat dikonfirmasi, Prasetio hanya tertawa menanggapi beredarnya video tersebut.

"Kok pada senang sih, jadi ramai? Ha-ha-ha. Lu senang banget lu, janganlah... Jangan... Jangan," kata Prasetio sambil terus mencoba berjalan menghindari wartawan yang mengerubutinya, di Lapangan Eks IRTI Monas, Jakarta Pusat, Rabu (17/8/2016).

Penulis : Abba Gabrillin

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved