Alasan Mengapa Ahok Masih Perlu PDIP

Jika kalah di Pilkada DKI, bisa jadi parpol tersebut akan tersungkur di Pemilu 2019. Begitu pun sebaliknya.

Alasan Mengapa Ahok Masih Perlu PDIP
Kompas.com/Kurnia Sari Aziza
Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama saat wawancara wartawan, di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (12/8/2016). 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Babak baru di Pilkada DKI Jakarta diperkirakan akan cukup mengejutkan.

Jakarta sebagai barometer politik nasional ini menjadi pertaruhan besar partai politik yang akan maju di Pemilu 2019.

Jika kalah di Pilkada DKI, bisa jadi parpol tersebut akan tersungkur di Pemilu 2019. Sebaliknya, jika menang, kemungkinan sukses di pemilu akan lebih terbuka. Inilah mengapa Jakarta begitu penting.

Calon petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok tidak ingin menanggalkan jabatannya itu. Ia merasa kepemimpinannya di Jakarta masih harus dilanjutkan.

Kendaran politik Ahok untuk Pilkada DKI 2017 sejauh ini adalah 3 parpol dengan perolehan 24 kursi di DPRD DKI. Namun, Ahok masih belum puas dengan koalisi tersebut. Banyak yang heran dengan sikap Ahok yang masih menunggu dan melobi keputusan politik PDI-Perjuangan dalam pilkada tersebut.

Partai Golkar, Partai Hanura, dan Partai Nasdem sudah sepakat berkoalisi dan menyatakan dukungannya untuk Ahok maju di pilkada. Langkah 3 parpol tersebut membuat Ahok terbuai dan akhirnya memutuskan untuk maju di jalur parpol setelah sebelumnya bersikeras maju di jalur perseorangan dengan bantuan relawan "Teman Ahok".

Adapun PDI-P, dengan perolehan 28 kursi di DPRD, merupakan satu-satunya parpol yang memiliki syarat kursi mencukupi untuk mengajukan calon gubernur di perhelatan pilkada. Dibutuhkan 22 kursi untuk mengajukan bakal calon gubernur dan wakil gubernur di Pilkada DKI 2017.

Perlu diingat, 3 parpol yang berjanji akan jadi pengusung Ahok di pilkada ini sudah berkali-kali menyebut koalisi tersebut tanpa syarat dan tidak perlu jadi kader partai. Sekali lagi, TANPA SYARAT.

Agak mustahil muncul istilah ini dalam pergaulan politik yang sarat kepentingan, yang artinya mendukung secara gratis, tanpa pamrih. Tapi akal sehat saya kemudian kembali berpikir, menjadi lumrah, karena mereka yang bicara ini adalah politikus, yang bicara hari ini A besok bisa berubah menjadi Z.

Tak bisa dipungkiri, lezat sekali janji yang diberikan 3 parpol tersebut untuk mengusung Ahok bersama bakal calon wakil gubernurnya, Heru Budihartono. Tiket Ahok untuk maju di Pilkada DKI 2017 sudah di genggaman tangan.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved