Miris, Selama 8 Bulan 47 Anak Jadi Korban Cabul di Surabaya

kebanyakan persoalan pasiennya yang mengalami pencabulan saat masih kecil adalah pertengkaran rumah tangga dengan sang suami.

Miris, Selama 8 Bulan 47 Anak Jadi Korban Cabul di Surabaya
https://img.okezone.com
Ilustrasi

BANGKAPOS.COM, SURABAYA - AKP Ruth Yeni dari Polrestabes Surabaya menyebutkan, hingga Agustus 2016 ini sudah ada 47 anak korban persetubuhan di Surabaya.

Pada tahun lalu, jumlah korban persetubuhan tahun ini lebih banyak dan meningkat.

"Bisa dilihat di data, tahun 2015 lalu ada 44 korban. Tahun ini sudah mencapai 47 korban di bulan Agustus," katanya lewat pesan singkat kepada SURYA.co.id.

Kasus terakhir adalah pencabulan anak 6 tahun oleh kakek kandungnya.

Menanggapi hal itu, Agustina Konginan dr SpKJ (K), Sekretaris Program Studi Psikiatri RSUD Dr Soetomo - FK Unair Surabaya, menyatakan, masih banyak kasus serupa.

"Kan itu yang terungkap, masih banyak yang belun terungkap atau sengaja disembunyikan karena malu. Pasien saya banyak yang menjadi korban pelecehan seksual orang terdekatnya."

"Ayahnya, kakeknya, pamannya dan sebagainya. Dampaknya memang tidak langsung, itu akan terasa saat dia dewasa karena proses pertumbuhannya terganggu," terangnya kepada SURYA.co.id.

Agustina menjelaskan, kebanyakan persoalan pasiennya yang mengalami pencabulan saat masih kecil adalah pertengkaran rumah tangga dengan sang suami.

Hingga berdampak pada LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transggender).

"Sebetulnya wajar ketika seorang laki-laki terangsang, kakek-kakek juga punya libido. Tapi hal itu kan bisa dialihkan dengan berbagai cara misalanya menyibukkan diri dengan pekerjaan atau hobi-hobinya. Yang jelas gejolak nafsunya dialihkan," tambahnya.

Menurut dia, pencabul perlu dievaluasi, apakah ada gangguan jiwa (waham) atau gangguan jiwa berat, misalnya pelaku mendengar suara-suara yang mengendalikan dirinya.

Atau bisa juga pelaku mengikuti aliran-aliran sesat, dorongan nafsu seks yang berlebihan, atau tidak ada tempat yang sewajarnya untuk disalurkan.

"Atau karena dia sudah tua, bisa juga gangguan di otak sehingga cara berpikirnya salah. Kami menyebutnya gangguan mental organik."

"Fungsi otak menjadi terganggu. Untuk lebih tau lanjut memang harus dievaluasi jiwa dan sarafnya," tutupnya.

Editor: Hendra
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved