Inilah Desa Para 'Bujang Lapuk', Apa yang Dilakukan Para Warganya Mengejutkan

Sebuah desa yang berlokasi di daerah terpencil di Provinsi Anhui, di wilayah timur China, dikenal sebagai desa para bujangan.

Inilah Desa Para 'Bujang Lapuk', Apa yang Dilakukan Para Warganya Mengejutkan
BBC
Xiong Jiagen (43) memilih tetap tinggal di desanya karena berbagai alasan, salah satunya adalah untuk merawat pamannya yang sudah renta. 

Akibatnya sejak 1980, China mengalami surplus pria yang berujung banyak pria negeri tersebut kesulitan mendapatkan istri.

Peran orangtua dalam mengupayakan kehidupan terbaik bagi anak-anak mereka masih sangat penting.
Keberadaan makcomblang atau perantara untuk mencari pasangan hidup adalah hal yang lazim di desa-desa.

Xiong mengatakan ia sudah menggunakan jasa para makcomblang, tapi tetap saja dia tak kunjung menemukan pasangan hidup.

"Beberapa (perempuan) sudah pernah berkunjung ke sini lewat makcomblang. Tapi kemudian mereka pergi lagi, karena mereka mendapatkan kesan yang buruk tentang transportasi," kata Xiong.

Peran makcomblang

Belum memiliki pasangan hidup bukan berarti Xiong tak pernah jatuh cinta terhadap seorang perempuan. Dia bahkan mengaku sudah pernah berpacaran.

"Saya pernah pacaran sebelumnya. Namun, tidak berhasil. Ia mengeluh bahwa desa saya tidak baik untuknya, terutama jalanannya." kenang Xiong.

Dia melanjutkan, pertemuannya dengan kekasihnya itu difasilitasi seorang makcomblang. Dan, Xiong masih mengingat jelas sosok perempuan yang pernah dicintainya itu.

"Tingginya hampir sama dengan saya, tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus. Ia cukup terbuka," kata dia.

Para perempuan Laoya, seperti di desa-desa lain di seluruh China, pergi ke kota untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

Halaman
1234
Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved