'Bupati Mau Jadi Raja', Pasukan Kerajaan Lawan Satpol PP Bentrok di Istana Gowa Bikin Geger

Bentrokan kali kedua ini dipicu memontum ritual pencucian benda pusaka kerajaan atau Accera Kalompoang yang secara turun temurun digelar setiap ...

'Bupati Mau Jadi Raja', Pasukan Kerajaan Lawan Satpol PP Bentrok di Istana Gowa Bikin Geger
kompas.com
Bentrok pasukan kerajaan Gowa melawan Satpol PP, Senin, (12/9). 

BANGKAPOS.COM, GOWA -- Bentrokan sengit antara pasukan kerajaan Gowa dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) kembali terjadi di istana Balla Lompoa, Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Sungguminasa, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan sekitar pukul 14.00 Wita, Senin, (12/9).

BACA: Kabar Duka, Penyanyi Mayangsari Sedih Ditinggalkan Sang Dalang Tersayang Ini

Bentrokan kali kedua ini dipicu memontum ritual pencucian benda pusaka kerajaan atau Accera Kalompoang yang secara turun temurun digelar setiap tahun usai Lebaran Iduladha. Pasukan kerajaan Gowa yang hendak memasuki istana Balla Lompoa mendapat hadangan dari Satpol PP bersama sejumlah preman lantaran di istana berlangsung pencucian benda pusaka serupa yang digelar Lembaga Adat Daerah (LAD).

BACA: Bikin Heboh, Naik Haji Secara Ajaib, Si Tukang Becak Ini Hilang dari Rembang Muncul di Mekkah

Akibatnya aksi saling serang menggunakan batu dan senjata tajam tidak terhindarkan. Tawuran tersebut berlangsung selama tiga jam. Brimob dibantuTNI diterjunkan untuk menangani bentrokan.

Aparat sempat kewalahan lantaran bentrokan terjadi di sejumlah titik. Kericuhan berakhir setelah ratusan aparat memblokade sejumlah titik bentrokan meski aksi saling lempar batu tetap berlangsung.

BACA: Ini Dia Penjelasan Soal Tes DNA Mulai Prosedur, Manfaat hingga Biayanya di Indonesia

"Tugas kami sebatas mengamankan dari kami dibantu oleh Brimob dan TNI mencegah agar kedua kubu tidak saling ketemu," kata Kepala Bagian Operasional Polres Gowa, Komisaris Polisi Henri.

Bupati Gowa Adnan Ichsan Yasin Limpo yang hadir di lokasi menegaskan bahwa terbitnya Perda LAD menegaskan bahwa tahta kerajaan Gowa sudah tidak ada, namun digantikan Ketua LAD dalam hal ini adalah bupati yang menjabat dan menjalankan seluruh fungsi adat dan budaya Gowa.

"Jadi kedudukan ketua LAD itu bukan sebagai raja dan masa pemerintahan raja Gowa sendiri berakhir pada masa Andi Idjo (Andi Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang Sultan Muhammad Abdul Kadir Aidudin (1946-1978)," kata Adnan.

"Fungsi raja digantikan bupati yang menjabat dan siapapun bupati yang menjabat akan menjadi ketua LAD berdasarkan Perda. Jadi saya menegaskan bahwa bukan pribadi saya yang ingin menjadi raja tolong diluruskan namun jabatan saya sebagai bupati sekaligus ketua LAD," jelas Adnan.

Bentrokan awal terjadi pada Minggu (11/9). Kala itu, puluhan pasukan kerajaan Gowa terlibat bentrok dengan ratusan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dibantu preman. Bentrokan menggunakan senjata tajam ini mengakibatkan dua orang terluka terkena sabetan senjata tajam dan anak panah.

Bentrokanbermula dari adanya arakan pasukan kerajaan bersamasejumlah pemangku adat sebagai rangkaian dari ritual pencucianbenda pusaka kerajaan yang secara turun-temurun digelar setiaptahun.

Sejatinya, bentrokan ini merupakan buntut dari konflik keluarga Kerajaan Gowa dengan keluarga bupati setempat yang berujung dengan penobatan sepihak Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichan Yakin Limpo sebagai Raja Gowa berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat. Hal ini ditentang oleh berbagai kalangan lantaran bupati bukan berasal dari garis keturunan Raja Gowa apalagi sebagai pewaris tahta kerajaan.

Sementara Raja Gowa ke-37, pewaris tahta yang sah kerajaan Gowa, yang dikonfirmasi terkait dengan bentrokan ini hanya bisa prihatin dan menghimbau agar bupati setempat berhenti mengusik keluarga kerajaan. (kompas.com/tribunnews.com)

Editor: asmadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved