Lipsus Harian Bangka Pos

Ikan Mahal, Tapi Ironisnya Nelayan Babel Tetap Menjerit, Tata Niaga Perikanan Babel Karut-marut

Harga komoditas perikanan di Bangka Belitung terus melambung lima tahun terakhir, terhitung sejak 2012 hingga tahun lalu

Ikan Mahal, Tapi  Ironisnya  Nelayan  Babel Tetap Menjerit, Tata Niaga Perikanan Babel Karut-marut
Bangkapos.com/Nurhayati
Nelayan mempersiapkan kapalnya untuk melaut di dermaga Pelabuhan Perikanan Nusantara Sungailiat Kabupaten Bangka. Foto diambil 17 Juni 2016. 

BANGKA POS.COM - - Harga komoditas perikanan di Bangka Belitung terus melambung lima tahun terakhir, terhitung sejak 2012 hingga tahun lalu.

Meski begitu kehidupan nelayan tetap bergantung pada pengepul yang mereka sebut sebagai bos. Tidak sedikit nelayan hanya bisa mengandalkan modal dari bos agar bisa melaut.

Seakan tanpa disadari, ketergantungan nelayan dengan bosnya ternyata juga menjadi pemicu mahalnya harga ikan di pasar.

Hal ini berdasarkan penelitian Kantor Perwakilan Bank Indonesia cabang Babel saat meneliti penyebab komoditas perikanan yang selalu menjadi penyumbang inflasi di Babel.

Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Eddy Hidayat mengatakan pihaknya melakukan penelitian tentang mahalnya harga ikan di tengah potensi laut Babel yang kaya ikan bersama Universitas Bangka Belitung (UBB).

Penelitian yang dilakukan pada Agustus lalu itu mengidentifikasi masalah inflasi ikan yang disebabkan semrawutnya pengelolaan cadangan (stok ikan) serta dibutuhkan perbaikan tata kelola jalur distribusi perikanan sebagai pemicu inflasi.

"Berdasarkan riset kecenderungan struktur pasar di Babel itu oligopoli, artinya harga didominasi oleh perusahaan besar ataupun para pemain di pedagang ikan, dengan demikian proses penentuan harga dengan penetapan harga tertinggi di pasar. Ini terjadi karena berdasarkan struktur pasar tempat pelelangan ikan (TPI) belum beroperasi secara maksimal" kata Eddy didampingi Humas Kantor Perwakilan Bank Indonesia, Sudarta, pada pekan lalu.

Ditambahkannya, penentuan harga juga dibarengi fakta bahwa biaya hidup nelayan selama melaut turut menjadi pertimbangaan dalam penentuan harga maka dapat dikatakan bahwa pelaku pasar memasukkan ekspektasi inflasi ke dalam penetapan harga jualnya.

"Sedikit masukan itu salah satunya cool storage (penyimpanan dingin) tersedia untuk menampung hasil perikanan di setiap nelayan. Sehingga saat ada periode tidak bisa melaut karena gelombang tinggi, stok ikan tetap ada. Tentang tempat pelelangan ikan (TPI) yang sebenarnya sudah ada di kabupaten kota selama ini tidak digunakan optimal tapi untuk fungsi yang lain," ujarnya.

Untung Rp 2.000

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved