Direktur BPRSl Sebut Ekonomi di Babel Sedang Batuk, Pilek dan Demam

BPR Syariah Bangka Belitung menggelar edukasi dalam rangka meningkatkan literasi keuangan kepada konsumen.

Direktur BPRSl Sebut Ekonomi di Babel Sedang Batuk, Pilek dan Demam
Bangkapos.com/Nurhayati
Direktur Utama Bank BPR Syariah Bangka Belitung, Helly Yudha didampingi Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Pembantu Penyuluh Kabupaten Bangka Thony Marza menyerahkan piagam penghargaan kepada Kepala SMKN 1 Sungailiat Harsiah saat pelaksanaan edukasi dalam rangka meningkatkan literasi keuangan kepada konsumen dan/atau masyaraka di SMKN 1 Sungailiat, Kamis (22/9/2016). 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Bank Pembiayaan Rakyat (BPR) Syariah Bangka Belitung menggelar edukasi dalam rangka meningkatkan literasi keuangan kepada konsumen dan masyarakat di SMKN 1 Sungailiat, Kamis (22/9/2016).

Kegiatan ini dilaksanakan BPR Syariah Babel sesuai dengan perintah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Berdasarkan undang-undang tersebut setiap lembaga keuangan wajib memberikan literasi sebagai edukasi keuangan kepada masyarakat.

Direktur Utama Bank BPR Syariah Bangka Belitung, Helli Yuda mengatakan literasi ini merupakan proses dalam rangka memberikan pemahaman keyakinan serta pemahaman pengaturan keuangan bagi konsumen atau masyarakat. Tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Diakui kondisi ekonomi dunia saat ini sedang lesu. Bahkan Negara Yunani hampir kolaps dihantam badai krisis moneter.

"Indonesia sakit yang dramatis dengan hutang ratusan trilyun, kita sebenarnya sudah miskin," ungkap Helli.

Kondisi ini lanjutnya mempengaruhi daya beli yang berkaitan dengan penghasilan masyarakat.

Dijelaskannya kondisi sekarang berbeda dengan tahun 1998, walaupun terjadi krisis moneter terjadi, Babel justru tidak mengalami krisis karena saat itu harga lada dan timah dunia justru naik.

Namun berbeda untuk saat ini dimana harga komoditi andalan di Babel malah turun drastis sehingga memperparah perekonomian di Indonesia.

"Mengapa hari ini Babel batuk, pilek, dan demam malah terjangkit penyakit kuning. Ini terjadi karena sawit murah, karet terjun bebas, sahang musiman, timah barangnya dakde lum dikejer-kejer kawan. Jadi apa penghasilan masyarakat," sesal Helli.

Kondisi ini menyebabkan perekonomian Babel dari yang ditargetkan 5,7 persen hanya tumbuh 3,5 persen.

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena dominasi penghasilan masyarakat sekitar 60 persen masih dikuasai timah, namun dengan regulasi timah yang masih carut marut sehingga mempengaruhi perekonomian di Babel.

"Sekarang yang agak mewah para pegawai negeri karena tidak tergantung perekonomian bagaimanapun gaji mereka tetap, berbeda dengan petani dan nelayan," kata Helli.

Oleh karena itu kehadiran mereka untuk memberikan literasi keuangan kepada masyarakat yang dilaporkan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Penulis: nurhayati
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved